oleh

Tolak Tapera, Buruh Bakal Demo Besar-besaran dan Serentak di Seluruh Indonesia pada 27 Juni 2024

JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Sejumlah serikat buruh yang tergabung dalam Aliansi Aksi Sejuta Buruh (AASB) akan kembali melakukan aksi unjuk rasa menolak wacana Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) yang dinilai para buruh bakal menyengsarakan, Kamis (27/6/2024).

Unjuk rasa ini akan besar-besaran karena secara nasional, yang melibatkan 10.000-20.000 orang buruh ikut turun ke jalan.

# Baca Juga :May Day 2024, Disnaker Upayakan Mediator Fasilitasi Tuntutan Para Buruh Usai Demo di Tabalong

# Baca Juga :Mayday 2024, Ratusan Buruh di Tabalong Demo, Sampaikan 5 Tuntutan, Salahsatunya Soal Jam Kerja

# Baca Juga :Massa Aliansi Pekerja Buruh Banua Demo ke DPRD Kalsel, Tuntut Kenaikan UMP 2024 Sebesar 15 Persen

# Baca Juga :DEMO BERLANJUT, Hari Ini Giliran Buruh Turun ke Jalan Tolak Kenaikan BBM, Kemarin Mahasiswa

“Rencananya secara nasional di tanggal 27 Juni 2024, kami pun akan aksi menyampaikan bahwasanya tolak Tapera dan cabut untuk selamanya,” ujar perwakilan Federasi Serikat Pekerja (FSP) Logam Elektronik dan Mesin (LEM/SPSI) Endang Hidayat di Kantor DPP Apindo DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Senin (10/6/2024).

Menurutnya aksi nasional tolak Tapera ini bakal diikuti oleh 10 hingga 20 ribu buruh di seluruh Indonesia.

Sementara untuk aksi di Jakarta diperkirakan dihadiri tiga sampai empat ribu buruh.

Sebelumnya, sejumlah elemen buruh telah menggelar aksi unjuk rasa di depan Istana Negara, Jakarta, pada Kamis 6 Juni 2024. Mereka menuntut pencabutan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2024 tentang Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) dan jaminan keamanan uang mereka.

Presiden Partai Buruh Said Iqbal menegaskan buruh akan menggelar aksi lebih besar secara nasional di seluruh Indonesia jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.

“Aksi akan dilanjutkan meluas ke seluruh Indonesia 38 provinsi lebih dari 300 kabupaten/kota,” kata Said Iqbal dalam orasinya.

Said Iqbal menjelaskan buruh menolak Tapera karena beberapa alasan. Pertama, mereka tidak yakin program ini akan menjamin mereka mendapatkan rumah

“Dengan rata-rata upah Rp3,5 juta rupiah, rata rata upah ya untuk Indonesia kalau dipotong 3 persen berarti kan Rp105.000, setahun kali 12, Rp1,26 juta. Kalau sepuluh tahun cuma Rp12,6 juta, katakanlah 20 tahun dipotong iurannya hanya Rp25,2 juta. Mana ada rumah harganya Rp12,6 juta sampai Rp25,2 juta,” ujar dia.