YANGON, KALIMANTANLIVE.COM – Militer Myanmar mengambil alih pemerintahan setelah menangkap Aung San Suu Kyi, Prisiden Myanmar dan sejumlah tokoh politik dalam penggerebekan, Senin (1/2/2021O).
Panglima AD Jenderal Min Aung Hlaing yang memimpin kudeta, mengumumkan keadaan darurat nasional selama satu tahun.
Reuters melaporkan bahwa Aung San Suu Kyi ditahan bersama dengan para pemimpin lain dari partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) miliknya dalam penggerebekan dini hari tadi.
BACA JUGA :
Aung San Suu Kyi dan Presiden Myanmar Ditangkap, Militer Tuding Pemilu Curang
Pihak militer Myanmar melakukan kudeta atas dasar adanya kecurangan pemilu.
Menurut sebuah pernyataan di stasiun televisi milik militer, Panglima militer Min Aung Hlaing disebut memberlakukan keadaan darurat selama satu tahun.

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres, mengecam kudeta di Myanmar, menyusul penahanan Aung San Suu Kyi, Presiden Win Myint, dan pemimpin politik lainnya dilakukan militer.
Guterres prihatin dengan deklarasi pengalihan kekuasan legislatif, eksekutif, dan yudikatif ke militer.
“Perkembangan ini merupakan pukulan telak bagi reformasi demokrasi di Myanmar,” kata jubir Stéphane Dujarric dalam pernyataan yang dirilis di situs resmi PBB, Senin (1/2/2021) dilansir dari Republiika.co.id.







