Dalam penjelasannya, Jenderal Gatot Nurmantyo akhirnya menceritakan dirinya didatangi dan ditawari untuk mengantikan AHY di Partai Demokrat.
Namun, Gatot Nurmantyo tidak mengungkapkan siapa sosok yang datang menawarinya untuk mengambilalih Partai Demokrat dari AHY.
“Datang… saya tanya bagaimana prosesnya? Nanti kita bikin KLB. KLB, terus bagaimana? Nanti yang dilakukan adalah kita mengganti AHY dulu, mosi tidak percaya, agar AHY turun. Setelah AHY turun baru kita pemilihan. Begini, bengini. Oh begitu ya,” katanya.
BACA JUGA :
AHY Sebut Moeldoko Ketua Umum Partai Demokrat Abal-abal Versi KLB Ilegal
Gatot Numantyo menegaskan, menggantikan AHY dengan cara mencongkel, itu tidak mungkin karena tidak sesuai dengan moral dan etika. Terlebih lagi, kariernya di TNI tak lepas dari perhatian SBY.

“Saya ini bisa naik bintang satu, bintang dua, tarolah itu biasalah. Tapi begitu saya naik bintang tiga, itu presiden pasti tahu, kemudian jabatan Pangkostrad, pasti presiden tahu. Apalagi presidennya tentara, waktu itu, tidak sembarangan. Bahkan saya Pangkostrad dipanggil Pak SBY ke Istana. (Kata SBY) Kamu saya akan jadikan Kepala Staf Angkatan Darat. Saya katakan terima kasih dan saya akan pertanggungjawabkan… (Kata SBY) Laksanakan tugasmu dengan profesional. Cintai prajurit dan keluarga seganap hati dan pikiran…”
Nah, kata Gatot Normantyo lagi, “Apakah iya, saya dibesarkan oleh dua presiden, yakni (Presiden) SBY dan (Presiden) Jokowi, terus saya membalasnya dengan mencongkel anaknya?”







