Sementara itu, Sekretaris Desa (Sekdes) Paau, Aspiani Alpawi yang juga mengetuai kelompok sadar wisata (Pokdarwis), menjelaskan ritual adat ini sudah dilaksanakan warga setempat setiap tahunnya sejak tahun 1800-an, karena merupakan adat turun temurun.
“Kegiatan ini dimeriahkan dengan berbagai agenda, salah satunya river tubing, memasak seserahan, penampilan kesenian bakuntau dan juga ada photo contest sebelum acara puncak dimulai,” ujarnya.
BACA JUGA:
Warga Kotabaru Mengadu ke Komisi II DPRD Kalsel, Waswas Lahan Kebun Diklaim Masuk Hutan Lindung
Menurut Aspiani, acara puncak ritual adat seserahan hutan yaitu prosesi pembacaan doa-doa secara agama Islam oleh para tokoh adat.
“Setelah prosesi ritual adat selesai dilaksanakan, makanan yang dimasak seperti lamang dan lainnya akan dibagikan kepada para tamu dan pengunjung” ucap Aspiani.

Objek Wisata Batu Balian di Desa Paau ini menyajikan pemandangan alam yang menawan, mulai bentang alam berupa jejeran pegunungan, hutan hujan tropis Pegunungan Meratus yang masih alami, hingga sungai yang airnya berwarna bening.
Lokasi Desa Paau bisa dicapai dengan menempuh perjalanan air menggunakan kapal (perahu bermotor) sekitar satu setengah jam dari pelabuhan Tiwingan Lama, Riam Kanan.
Penulis : Romi Alfianor/hms
Editor : Elpian Achmad







