Semoga Nasib bapak ini mendapatkan perhatian dari pimpinan Polri atas Pengabdianya Terhadap Bangsa dan Negara.” tulis akun @lintas.patroli.
Dari informasi yang didapat, Agus baru mendapatkan uang sebesar Rp 20 ribu.
Agus terpaksa menjadi manusia silver demi bertahan hidup.
Pihak Polda Jateng pun disebut-sebut telah mendatangi AD untuk memberikan bantuan.
Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Luthfi langsung memberikan atensi.
Melalui stafnya Kapolda memberikan bantuan uang dan sembako kepada pria tersebut.
Berdasar informasi, Agus Dartono terakhir berdinas di Poslantas Tembalang dengan pangkat Aipda.
Kapolda Jateng melalui Kabidhumas Kombes Pol M Iqbal Alqudusy mengatakan video pensiunan anggota Polri yang menjadi manusia silver langsung menjadi atensi Kapolda Jateng, Irjen Pol Ahmad Luthfi.
Video itu beredar sekitar pukul 11.00 pada Sabtu (25/9/2021).
“Sekitar pukul 12 Kapolda langsung meluncurkan bantuan melalui seorang staf Polda, AKBP Purbaya. Beliau langsung menyerahkan bantuan uang yang langsung diterima di rumah Pak Agus, kemarin,” jelasnya, Minggu (26/9/2021).
Menurutnya, Agus tinggal bersama istri di kawasan Candisari, Semarang.
Alasan Agus mengamen menjadi manusia silver dikarenakan faktor ekonomi.
Agus malu meminta bantuan kerabat atau rekan, dan akhirnya nekat menjadi manusia silver.
Iqbal menuturkan, Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Irwan Anwar juga memberikan bantuan dan menjanjikan pekerjaan.
Menurut rencana, Agus akan menghadap Kapolrestabes, pada Senin (27/9/2021).
“Kemarin Agus juga sudah menghadap Wakapolrestabes dan langsung menerima bantuan dari Kapolrestabes. Serta juga menerima bantuan hasil iuran rekan-rekan anggota,” tandasnya
Kompolnas : Masa Purna Tugas Butuh Persiapan
Baru-baru ini ada kejadian viral purnawirawan Polri di Kota Semarang diamankan Satpol PP lantaran menjadi manusia silver.
Purnawiran itu atas nama Agus Dartono (61) pangkat terakhir Aipda.
Motif Agus nekat menjadi manusia silver karena desakan ekonomi.
Sebelum menjadi manusia silver, dia juga pernah menjadi sopir angkutan umum.
Menanggapi hal itu, Anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Poengky Indarti menilai, memang kalau melihat berdasarkan gaji dan remunerasi atau tunjangan anggota Polri untuk yang level Tamtama dan Bintara masih minim.
“Hal itu berbanding terbalik jika dibandingkan dengan tantangan tugas dan tingginya biaya hidup, terutama di kota-kota besar,” katanya saat dihubungi Tribunjateng.com, Senin (27/9/2021).
Ia menuturkan, apalagi jika dibandingkan dengan gaji anggota Kepolisian di negara lain.
Misalnya di Hongkong, untuk selevel Bintara digaji mulai sekitar Rp36 juta.
Belum lagi ditambah asuransi dan perumahan.
Untuk level Perwira mulai sekitar Rp76 juta ditambah asuransi dan perumahan.
Kesejahteraan anggota Kepolisian di Hongkong juga mempengaruhi peningkatan kualitas kinerja Kepolisian.
“Sekaligus menjadi aparat yang lebih bersih,” terangnya.
Dibandingkan dengan Indonesia, sambung dia, merujuk PP Nomor 17 Tahun 2019 yang diteken Presiden Jokowi.
Gaji level tamtama di angka maksimal Rp2,9 juta untuk masa kerja golongan (MKG) 28 tahun.
Level golongan 2 atau bintara paling tinggi yakni Iptu gaji Rp4 juta dengan MKG di atas 30 tahun.
Rentang pengabdian yang sama sekelas perwira pertama dengan jabatan AKP digaji Rp4,7 juta.
Kombes memiliki gaji pokok Rp5,2 juta.
Perwira tinggi sekelas jenderal polisi digaji Rp5,9 juta.
Untuk tunjangan kinerja merujuk Perpres 103 tahun 2018 paling rendah golongan 1 mendapat tukin sebesar Rp1,9 juta.
Golongan menengah atau golongan 9 Rp4,9 juta.
“Wakapolri sebesar Rp34,9 juta,” ujarnya mengutip data di Perpres tersebut.
Ia menilai, sangat perlu adanya perhatian kepada purnawirawan Polri.
Khususnya terkait dana pensiun dan asuransi kesehatan dan hari tua.
Polri dapat membuat sistem yang mempersiapkan para anggota yang akan pensiun agar siap menghadapi masa pensiun.
“Termasuk upaya mengembangkan potensi menjadi wiraswasta atau menyalurkan ke perusahaan yang membutuhkan,” tandasnya.
editor : NMD
sumber : tribunnews.com







