Sempat menyoroti kehebohan Baim Wong dan kakek Suhut, Uncle Teebob kagum pada sikap sang aktor.
Pria yang dikenal sebagai sosok yang kerap berbagi pada kaum tak mampu itu salut dengan sikap Baim Wong yang mau minta maaf kepada kakek Suhut.
“BERJIWA BESAR N LAKI2 SEJATI n I PROUD OF YOU BRO
Ini pembelajaran buat Kita semua dan untungnya bukan Kita yg mengalami…
Bagaimana kalau kalian yg mengalami ? Akankah tetap berharap orang membenci ?
Jangan menyimpan benci dan dendam Dalam hati karena akan membuat busuk selamanya hati Kita
MEMANUSIAKAN MANUSIA DENGAN SALING MEMAAFKAN,” tulis Uncle Teebob, Rabu (13/10/2021).
Seperti diketahui, nama Baim Wong belakangan jadi perbincangan lantaran videonya saat memarahi kakek bernama Suhut viral.
Nama Baim Wong bahkan sempat jadi trending selama dua hari yakni pada Sabtu dan Minggu (9-10 Oktober 2021) gara-gara hal tersebut.
Baim Wong dituding melakukan hal yang tidak pantas karena sudah memarahi kakek berusia 77 tahun itu.
Baim Wong bahkan dikecam dan diancam akan dilaporkan ke Komnas HAM.
Baca Juga :2 Alasan Arab Saudi Terima Jemaah Umrah Indonesia, Kemenag Berharap Penerbangan Dipercepat
Baca Juga :Mantan Kim Kardashian Jual Peternakan di Wyoming Seharga Rp156 Miliar
Baca Juga :Gempa M 4,8 Guncang Pacitan Jawa Timur, BMKG: Getaran Terasa hingga Trenggalek dan Sleman
Mitos Pembawa Sial, Apa Pandangan Islam?
Banyak mitos masih bertebaran tentang pembawa sial. Tak terkecuali di kawasan perkotaan.
Pembawa sial dipercaya bisa berbentuk beragam hal. Mulai orang, barang, hingga angka tertentu. Misalnya saja, kita masih sering melihat banyak lift di pusat perbelanjaan atau hotel tidak mau menggunakan nomor tertentu untuk penanda lantainya.
Si pengelola percaya jika menggunakan angka tersebut akan membawa sial. Maka, angka itu pun ditambah dengan huruf untuk mengganti angka yang dianggap mendatangkan kerugian.
Begitu pula dengan penanggalan. Sebagian masyarakat kita masih percaya ada tanggal baik dan tanggal buruk. Tanggal baik akan dipilih untuk waktu penyelenggaraan pernikahan, khitanan, dan acara besar lainnya.
Sebaliknya, tanggal buruk akan dijauhi karena khawatir bisa mendatangkan malapetaka bagi acara yang diselenggarakan.
Orang bahkan bisa dicap sebagai pembawa sial. Syahdan, ada seorang wanita yang menikah dengan teman sekerjanya.
Setelah berkeluarga, mereka pun kerap mengalami cobaan, seperti bencana, sakit, kerugian, dan kecelakaan. Kejadian buruk itu sudah terjadi sebelum keduanya menikah.
Hanya, suami dan keluarganya berprasangka bahwa istrinyalah pembawa sial. Jiwa sang istri pun tertekan karena adanya prasangka tersebut.
Bila ditilik dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sial artinya tidak mujur dan segala usahanya selalu tidak berhasil (seperti sukar mendapat rezeki, sukar mendapat jodoh).
Sesuatu yang dianggap membawa ketidakmujuran atau pertanda buruk pun dikatakan sebagai pembawa sial.
Mufti Agung Al Azhar Mesir Prof Dr Ali Jum’ah Muhammad mengatakan, anggapan adanya pertanda buruk pada sesuatu adalah salah satu tradisi kaum jahiliyah. Tradisi ini dihapuskan dan terlarang di dalam Islam.
Tak kurang, Firaun dan pengikutnya pernah menuding Musa sebagai pembawa sial. Tudingan itu disampaikan saat Allah mencabut kebaikan berupa kesuburan, kelapangan, dan kesehatan.
Saat itu, Mesir dilanda musim kemarau yang panjang. Paceklik terjadi dan tumbuh-tumbuhan tak mau menghasilkan pangan. Padahal, dahulu mereka hidup dalam kemakmuran.







