Namun si acil -sebutan yang digunakan orang Banjar untuk memanggil Bibi- tidak menghiraukan panggilan mereka. Pengepul emas Paramasan ini memilih lari ke arah Bancing untuk meminta pertolongan.
15 menit pasca-kejadian, barulah masyarakat berdatangan. Namun kawanan perampok yang berjumlah 6 orang tersebut sudah melarikan diri ke arah Dusun Emil atau lebih tepatnya ke arah Batulicin.
Para mahasiswa tersebut menerangkan jika ciri-ciri khusus dari salah satu perampok; memakai kaos lengan pendek berwarna merah; memakai penutup kepala dengan badan yang tidak terlalu tinggi; untuk spesifik rambut dan lainnya tidak dapat dikenali karena memakai penutup wajah hingga kepala.
“Yang kami lihat cuman satu orang itu saja, yang menodong kami dengan senjata laras panjang,” ujarnya.
Sementara perampok lainnya yang seorang di antaranya juga menggenggam benda menyerupai pistol sibuk mencari barang berharga di warung milik Julak istri dari Paman Musa.
Mahasiswi LY menambahkan jika kawanan perampok tersebut seperti sudah terkoordinir. Sebab, tiga orang dari kawanan perampok tampak mengawasi dan menjaga bagian jalan trans Kandangan untuk menghindari adanya perlawanan warga.
“Untuk tiga orang lainnya sibuk di dalam warung untuk mencari harta benda dan menyekap istri Paman Musa,” terangnya.
Para mahasiswi tersebut mengatakan untuk saat ini belum ada dimintai keterangan dari pihak berwajib, namun beberapa saat yang lalu pihaknya melihat ada dua polisi yang datang ke tempat kejadian.
Pasca-kejadian tersebut mereka merasa trauma bahkan jika ada yang lewat saat tengah malam mereka menjadi waswas. Mendengar suara orang berteriak mereka cemas.
“Beberapa hari setelah kejadian itu memang kami sangat trauma, namun untuk saat ini sudah berkurang rasa takut itu,” timpal LY.
Dari kabar yang beredar di sekitar tempat kejadian menurut keterangan para mahasiswi tersebut para perampok sudah menargetkan rumah milik Julak atau Salamiah (39).
Namun karena merasa kurang banyak uang dan emas yang didapat dari rumah Julak -panggilan dalam bahasa Banjar untuk orang yang lebih tua- mereka langsung beraksi ke rumah Acil Idah yang letaknya hanya selemparan batu dari TKP awal.
Para mahasiswi ini berharap agar kasus ini segera diusut tuntas. Setahu mereka, masyarakat di Paramasan Bawah saat ini sangat was-was bahkan untuk bekerja meninggalkan keluarga dan harta benda juga sekadar untuk beribadah pun takut meninggalkan rumah.
“Kalau bisa kasus ini bisa terungkap secepatnya kasihan masyarakat di sana, kami yang hanya sementara di sana saja merasa takut apalagi mereka yang tinggal dan menetap di sana,” tutupnya.
Kerugian Korban
Polisi telah menghimpun total kerugian dari perampokan yang menimpa Salamiah dan Idah.
Dari tangan Salamiah (39) saja, total kerugian akibat perampokan yang viral di media sosial ini mencapai Rp7 juta rupiah, dan emas mentah seberat 15 gram.
Korban Idah saat mengecek brankas berisi emas mentahnya yang ludes dikuras kawanan perampok. Hampir sebulan lamanya enam pelaku perampokan bersenjata api di warungnya masih buron. Foto: Ist
Tak hanya kerugian materiil, Salamaiah juga dianiaya dan dipukul kepalanya oleh para perampok. “Itu setelah korban disekap,” terang Kapolres Banjar, AKBP Dony Hady Santoso melalu Kasi Humas Iptu Suwarji kepada apahabar.com, Senin (11/10).







