BANJARMASIN, KALIMANTANLIVE.COM – Kehadiran Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Kalimantan Selatan (Kalsel) juga meninjau proses vaksinasi Covid-19 di Banjarmasin.
Selain itu Jokowi juga meresmikan Jembatan Sei Alalak dan Pabrik Biodisel di Kabupaten Tanah Bumbu.
Di Banjarmasin, Jokowi kaget karena masih rendahnya vaksinasi di Kalsel yang baru mencapai 33 persen.
Presiden mengaku telah memerintahkan pemda, bupati, wali kota, dandim, hingga kapolres di seluruh kabupaten/kota di Kalsel untuk segera menghabiskan stok vaksin di daerah masing-masing.
Presiden menargetkan angka vaksinasi Covid-19 di seluruh Tanah Air mencapai 70 persen penduduk pada akhir tahun ini.
Baca Juga :Pencuri Kembalikan Barang yang Dicuri Via Ojek Online, Ada Surat: Mohon Maaf Saya Terjerat Pinjol
Baca Juga :RINCIAN Harga Emas Antam di PT Pagadaian Hari Ini, 2 Gram Naik Rp 12 Ribu Menjadi Rp 1.853.000
“Akhir tahun ini, akhir Desember, kita berharap 70 persen warga kita sudah tervaksin,” ujarnya, dilansir dari Kompas.com.
Jokowi mengatakan, vaksin dapat memberikan perlindungan maksimal kepada masyarakat dari penularan virus corona.
Presiden Joko Widodo mengingatkan seluruh instansi pendidikan agar berhati-hati menggelar pembelajaran tatap muka (PTM).
Ia meminta pihak sekolah betul-betul memperhatikan penerapan protokol kesehatan pencegahan virus corona, termasuk memastikan vaksinasi bagi tenaga pendidik dan pelajar usia 12-18 tahun.
“Hati-hati untuk pembelajaran tatap muka, terutama untuk yang SD, agar fasilitas kesehatan, infrastuktur kesehatan yang ada di sekolah-sekolah betul-betul dicek,” kata Jokowi saat meninjau vaksinasi di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Kamis (21/10/2021).
“Jangan sampai ada anak-anak kita, murid-murid kita, pelajar-pelajar kita yang terkena Covid-19,” tuturnya.
Jokowi mengatakan, vaksin dapat memberikan perlindungan maksimal kepada masyarakat dari penularan virus corona.
Perluasan dan percepatan vaksinasi penting untuk mengontrol laju penularan Covid-19 dan mempertahankan tren penurunan kasus Covid-19 di seluruh Tanah Air.
Dengan demikian, tidak hanya sektor pendidikan yang dapat segera berjalan normal, tetapi ekonomi pun diharapkan segera pulih kembali.
“Kita ingin juga segera menggerakkan perekonomian riil di daerah-daerah dan menjaga pertumbuhan ekonomi nasional,” kata dia.
Adapun vaksinasi Covid-19 di Indonesia sudah mulai digelar sejak 13 Januari 2021. Awalnya vaksinasi menyasar tenaga kesehatan dan petugas pelayan publik.
Sasaran vaksinasi kemudian diperluas hingga ke lansia, pelajar, juga masyarakat umum.
Pemerintah menetapkan sasaran vaksinasi untuk mencapai kekebalan komunitas (herd immunity) yakni sebanyak 208.265.720 orang.
Adapun data pemerintah hingga Rabu (20/10/2021), tercatat ada 64.622.692 orang yang sudah mendapatkan suntikan vaksin Covid-19 dosis kedua.
Jumlah ini setara 31,03 persen dari total target sasaran vaksinasi yang ditetapkan.
Sementara itu, jumlah masyarakat yang sudah disuntik vaksin Covid-19 dosis pertama yakni 109.796.866 orang atau 52,72 persen.
Ancaman Gelombang Ketiga Covid-19
Sementara itu, sebelumnya Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menyakini, gelombang ketiga juga akan menghantam Indonesia.
Hal itu didasari dari pengalaman negara di Eropa dan Amerika Serikat.
“Kita melihat gelombang ketiga sesuatu yang niscaya pasti terjadi. Kenapa? karena banyak negara mengalami gelombang ketiga, seperti Inggris dan Amerika Serikat dimana mereka memiliki cakupan vaksinasi yang tinggi, juga memiliki tingkat prokes yang sudah baik,” ujar Nadia dalam diskusi virtual, Kamis (21/10/2021).
Seperti dilansir dari Tribunnews.com dengan judul Alasan Indonesia Bakal Hadapi Gelombang Ketiga Covid-19.
Ia memaparkan, dalam satu tulisan jurnal ilmiah disampaikan bahwa sifat Covid-19 ini akan menimbulkan gelombang gelombang berkali-kali.
“Jadi tidak cukup dengan satu gelombang dan sudah mencapai puncaknya. Kemudian turun, seperti yang saat ini kita alami. Artinya kemudian ada serangan, pandemi ini selesai,” ungkap perempuan berhijab ini.
Untuk itu, cakupan vaksinasi secara global terus diperluas dan dipercepat.
Selain itu Nadia mengingatkan, adanya pergerakan mobilitas masyarakat berpotensi menimbulkan lonjakan kasus di tengah varian atau mutasi virus.
Ada Maulid nabi yang minggu ini kita bisa lihat ya cukup banyak pergerakan masyarakat, kedua Natal, juga yang terakhir ini tahun baru.
Di mana tahun baru ini adalah biasanya terjadi peningkatan kasus yang cukup besar seperti yang kita alami waktu di akhir 2020,” jelas Nadia.
editor : NMD
sumber : banjarmasinpost.co.id







