Korban meninggal dunia dan penumpang yang mengalami luka-luka telah dibawa ke Rumah Sakit Kramatjati dan Rumah Sakit Budi Asih, Jakarta.
Sambodo mengatakan, sejauh ini anggotanya sedang mendalami penyebab kecelakaan itu mulai dari dugaan sopir mengantuk atau mungkin terjadinya rem blong.
“Kita akan melihat apakah ini human error, artinya bisa saja si sopir ngantuk atau melamun atau tidak konsentrasi dan sebagainya. Atau bisa juga ada kerusakan pada rem. Rem tak berfungsi atau blong dan sebagainya,” kata Sambodo.
Tes darah sopir
Polisi melakukan penyelidikan awal dengan melakukan pemeriksaan darah dari pengemudi bus transjakarta yang menabrak dan menjadi korban tewas.
“Diambil darah sopir (bus transjakarta) yang belakang yang meninggal,” kata Sambodo.
Sambodo mengatakan, pengecekan darah sopir bus transjakarta untuk memastikan kondisinya saat mengemudi.
Selain itu, polisi juga tak menutup kemungkinan akan memanggil PT Transjakarta apabila nanti terbukti ada kelalaian.
“(Pemanggilan PT Transjakarta) tergantung. Kami lihat berjenjang. Kalau misal human error, orang ngantuk itu dilihat jam berapa dinas dan istirahat, kemudian apakah dipengaruhi oleh narkoba alkohol,” ucap Sambodo.
Lakukan traffic accident analysis (TAA)
Sambodo mengatakan, pihaknya juga akan melakukan pendalaman terkait penyebab kecelakaan itu dengan traffic accident analysis (TAA). TAA akan digelar pada Selasa (26/10/2021).
“Kami sudah koordinasi, kemungkinan Selasa akan dilakukan TAA,” kata Sambodo.







