Berusia Lebih 8 Ribu Tahun, Batu Unta di Arab Saudi Ditetapkan sebagai Relief Hewan Tertua di Dunia

kalimantanlive.com – Arab Saudi tak hanya gurun pasir dan bukit tandus, negara yang menjadi tempat Umat Islam menyelesaikan rukun kelima itu banyak memiliki peninggalan kuno zaman prasejarah.

Bahkan banyak patung kuno di Arab Saudi dibuat saat gurun masih hijau dan unta masih liar.

Para arkeolog percaya, pahatan unta seukuran aslinya kemungkinan diukir saat zaman batu muda atau neolitikum.

Jauh di Gurun Arab Utara, di mana pertanian sangat sepi dan banyak batu-batu besar berwarna merah muncul dari pasir, para petani sudah tahu batu besar yang berbatasan dengan ladang mereka adalah hal yang istimewa.

Ketika mereka melihat dari dekat pada bangunan yang menjulang tinggi itu, hanya terlihat ukiran unta dan hewan berkuku seperti kuda yang sangat besar.

Selama ribuan tahun, situs itu tidak pernah diganggu kecuali saat ayam berkokok atau anjing menggonggong di dekat peternakan.

Dikutip dari Atlas Obscura, pada 2010 situs tersebut menarik perhatian Hussein Al-Khalifa, mantan direktur General Authority for Tourism dan Nasional Heritage.

BACA JUGA: Supian HK Apresiasi Anugerah Gelar Doktor Kehormatan Paman Birin : Kesepakatan 62 Profesor di ULM

Khalifa segera melihat bahwa situs tersebut sangat luar biasa.

Setelah delapan tahun dipelajari secara formal, Hussein dan tim ahli pergi untuk memeriksa situs tersebut secara rinci pada musim gugur 2018, seperti dikutip dari dream.co.id.

Studi awal itu menentukan situs tersebut diukir sekitar 2000 tahun yang lalu.

Saat ini, penelitian terbaru menunjukkan unta tersebut bahkan lebih istimewa daripada yang diperkirakan.

Journal of Archaeological Science terbaru, telah menemukan ukiran itu sebenarnya berusia lebih dari delapan ribu tahun, menjadikannya relief hewan berskala besar tertua di dunia.

Arkeolog utama dalam penelitian ini, Maria Guagnin dari Institut Max Planck Jerman untuk Ilmu Sejarah Manusia, mengatakan temuan ini luar biasa.

Sementara relief lain yang lebih tua dan lebih kecil dapat ditemukan di Prancis dan Jerman.

“Perbedaan dengan ukiran unta ini tidak hanya besar, tetapi juga tinggi di lereng yang curam dan saat anda mengukirnya, anda tidak akan pernah bisa melihat seluruh hewan,” kata Guagnin. Dari perspektif teknis, itu jauh lebih menantang, tambahnya.

Sebanyak 21 relief unta terukir di atas bongkahan batu merah di desa sepi.

Sekitar delapan ribu tahun yang lalu di Jazirah Arab, unta masih berkeliaran liar.

Baru pada 1200 SM, para ahli percaya, unta dijinakkan.

“Hari ini kita tidak tahu apa-apa tentang unta liar,” kata Guagnin.

Tim menduga bahwa leher menonjol yang terlihat pada unta berukir (khas unta jantan) dan perut bundar menunjukkan kesuburan atau rimbunnya vegetasi musiman.

Meneliti seni pahat secara akurat sangat sulit terutama di situs setua ini.

Erosi dan paparan sering menghilangkan indicator usia batu. Guagnin mengatakan, dia dan timnya menggunakan semua teknologi yang tersedia untuk melakukan penelitian.

Mereka membawa ahli batu untuk melihat tanda alat kuno pada situs.

“Awalnya, kami pikir ukiran ini sangat canggih sehingga mereka pasti memiliki alat yang canggih. Namun, ternyata tidak. Mereka menggunakan alat-alat batu,” kata Guagnin.

Bahkan tim menemukan beberapa alat batu yang berserakan di sekitar lokasi.

Meinrat Andreae dari Institut Kimia Max Planck juga datang ke lokasi dengan membawa spektrometer fluoresensi sinar-X portable.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *