JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Analis Samuel Sekuritas Indonesia Dessy Lapagu memperkirakan, harga batu bara global masih berpotensi menguat.
Hal itu membuat Harga Batubara Acuan (HBA) diperkirakan juga menguat sampai akhir tahun.
Hal ini pada gilirannya bisa mendorong kenaikan HBA.
“(Harga batu bara global) hingga akhir tahun ini kami perkirakan masih akan berada diatas level US$ 150 per ton,” kata Dessy, Senin (8/11/2021).
Meski begitu, ia juga mengingatkan bahwa risiko pelemahan harga juga tetap mengintai.
# Baca Juga :TURUN Lagi Rp 2.000, Segini Harga Emas Antam Hari Ini, Buyback di Level Rp 837.000 Per Gram
# Baca Juga :Rumah Orangtua Aktivis Papua Veronica Koman 2 Kali Kena Teror, Suara Bom Terdengar Satu Gang
# Baca Juga :Inggris dan Polandia Laporkan Wabah Flu Burung, Semua Unggas di Warwickshire Bakal Dimusnahkan
“Apalagi langkah peningkatan supply dari China berjalan cukup cepat sehingga harga globalnya dapat berpotensi tertekan,” imbuhnya lagi.
Seperti diketahui, HBA merupakan harga yang diperoleh dari rata-rata indeks Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt’s 5900 pada bulan sebelumnya, dengan kualitas yang disetarakan pada kalori 6322 kcal/kg GAR, Total Moisture 8%, Total Sulphur 0,8%, dan Ash 15%.
Pada bulan ini, Harga Batubara Acuan (HBA) bulan November melonjak 33% atau US$ 53,38 per ton ke level US$ 215,01 per ton. Sebelumnya, HBA bulan Oktober hanya mencapai sebesar US$ 161,63.
Dalam keterangan resmi tertulis, Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan bahwa harga ini merupakan level HBA tertinggi dalam puluhan tahun terakhir.
Menurutnya, kenaikan harga ini didorong oleh permintaan dari Tiongkok yang terus meningkat menyusul mulai memasuki musim dingin serta kondisi cuaca buruk. Kondisi-kondisi ini menyebabkan terganggunya kegiatan produksi dan transportasi batubara di provinsi produsen batu bara.









