Bahkan menurutnya data center Google lebih tahan ketimbang Facebook.
Meski demikian, Jyoti menyebut rancangan internet saat init telah dibuat sedemikian rupa untuk mengantisipasi kegagalan koneksi. Jika, satu jalur kabel laut gagal, maka lalu lintas internet bisa dialihkan ke jalur lain yang aman. Namun, butuh biaya mahal untuk melakukan hal ini.
Lebih lanjut, para peneliti juga menyebut bahwa satelit komunikasi merupakan salah satu sistem terparah yang dapat dipengaruhi oleh badai Matahari.
“Kerusakan tersebut bukan disebabkan oleh arus induksi geomagnetik tetapi karena paparan langsung partikel bermuatan tinggi di CME. Ancaman terhadap satelit komunikasi termasuk kerusakan komponen elektronik dan hambatan ekstra pada satelit, terutama pada sistem orbit rendah bumi seperti Starlink yang dapat menyebabkan peluruhan orbit dan masuk kembali ke bumi secara tidak terkendali,” tulis peneliti seperti dikutip dari Hindustan Times.
Namun, para ahli menyebut sulit menerka kapan badai Matahari super yang bisa menyebabkan kiamat internet ini bakal terjadi.
Untuk menerka kapan terjadinya badai Matahari dengan skala besar, menurut Tiar hal tersebut tidak dapat dipastikan dalam rentang waktu yang jauh. Prediksi terkait badai Matahari hanya bisa diketahui dalam 24 jam.
“Kalau prediksi badai Matahari, hanya bisa dilakukan untuk 24 jam ke depan dengan melihat kondisi Matahari 24 jam sebelumnya,” ujar Tiar.
Prediksi badai matahari dapat dilihat dalam Space Weather Information and Forecast Services (SWIFtS) milik LAPAN di www.swifts.sains.lapan.go.id.
Lebih lanjut, Tiar mengatakan selama siklus Matahari ke-25 hingga saat ini badai terbesar (flare) adalah kelas X1.5 yang terjadi pada tanggal 3 Juli 2021 berasal dari bintik matahari nomor NOAA12838.
# Baca Juga :Krisis Chip dan Komponen Terbatas, Sony Berencana Pangkas Produksi PS 5
# Baca Juga :Konten Squid Game di YouTube Ditonton 17 Miliar Kali Kalahkan Game Of Thrones
# Baca Juga :RIA Ricis dan Teuku Ryan Menikah Hari Ini Jumat 12 November, LIVE & EKSKLUSIF hanya di MNCTV
# Baca Juga :Atak Diang Batola 2021, Pasangan Ahmad dan Dewi Dinobatkan Jadi Duta Pariwisata Satu Tahun
Badai Matahari super atau dalam skala besar pernah terjadi sebelumnya pada tahun 1859, dan di era modern tercatat terjadi pada Oktober 2003 di mana banyak satelit yang mengalami anomali.
“Badai super tidak bisa diperkirakan tapi ada kemungkinan terjadi,” imbuh Tiar.
Apalagi saat ini Matahari disebut sedang bangun dari tidur dan diprediksi bakal makin sering menjulurkan lidah Matahari yang berdampak jadi badai Matahari di Bumi.










