Hal ini terbukti dari badai Matahari yang cukup besar pada Rabu (3/11) dan Kamis (4/11), menyusul lontaran lidah api dari Matahari yang terjadi pada Senin (1/11) dan Selasa (2/11).
Lontaran lidah api ini berkaitan dengan munculnya bintik Matahari. Noda Matahari ini terjadi akibat badai magnetik yang terjadi di permukaan Matahari.
Aktivitas badai Matahari pekan ini disebut peneliti terkait dengan siklus periodik Matahari yang terulang tiap 11 tahun. Menurut Koordinator Program Space Weather Prediction Center (SWPC) Bill Murtagh aktivitas siklus Matahari diprediksi akan semakin meningkat imbas siklus maksimum Matahari ke-25 yang terjadi tiap 11 tahun sekali.
Peneliti Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyebut saat ini Matahari sedang menuju puncak siklus Matahari berikutnya (siklus-25) dan berpotensi menimbulkan badai Matahari besar.
Menurut Peneliti Pusat Sains Antariksa LAPAN, Tiar Dani, pada saat menuju puncak siklus dan setelahnya, akan banyak bintik Matahari yang muncul.
“Dari bintik-bintik tersebutlah muncul ledakan (flare) dan lontaran massa korona (CME) yang terjadi di Matahari atau bahasa awam menyebutnya badai Matahari,” ujar Tiar saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (11/11).
Berdasarkan pantauan Tiar, dalam satu bulan terakhir terjadi flare kelas X1.0 dan M2.2 yang terjadi pada 28 Oktober 2021 dan tercatat sementara merupakan flare terbesar kedua di siklus Matahari ke-25 ini.
editor : NMD
sumber : CNNIndonesia.com







