Dugaan pemerkosaan terjadi di sebuah gedung dengan keamanan tinggi yang merupakan bagian dari kompleks presiden. Macron tinggal di Elysee.
Pengungkapan tentang penyelidikan itu muncul di tengah upaya yang berkembang di Prancis untuk melawan dan berbicara tentang kekerasan seksual.
“Ini menunjukkan pemerkosaan bisa terjadi di mana saja, di lingkungan sosial ekonomi apa pun, kepada siapa pun. Bahkan di tempat yang paling aman,” kata Suzy Rotman, juru bicara Women’s Rights Collective dan pendiri kelompok Prancis untuk korban pemerkosaan.
“Kekerasan seksual ada di mana-mana.”
Menurut kelompok aktivis, gerakan global #MeToo telah mendorong lebih banyak korban untuk melaporkan kekerasan seksual di Prancis, tetapi mereka tetap menjadi minoritas.
Rotman menganalogikan mencari keadilan untuk pemerkosaan, terutama jika pelakunya adalah polisi atau perwira militer, sebagai ‘pertempuran nyata’ karena hambatan hukum, politik dan emosional yang terlibat.
Puluhan ribu wanita telah membagikan kesaksian secara online dalam beberapa minggu terakhir tentang dilecehkan atau dianiaya saat mengajukan keluhan pelecehan seksual di Prancis.
Prancis juga telah melihat lonjakan tuduhan online baru-baru ini tentang pelanggaran seksual di industri media dan teater, menyusul curahan serupa di sekitar dugaan pelanggaran seksual oleh pelatih olahraga dan tokoh budaya.
Oleh sebab itu, Rotman menyerukan pengadilan khusus untuk kasus kekerasan seksual dan lebih banyak pelatihan bagi polisi dalam menanganinya.
editor : NMD
sumber : CNNIndonesia.com







