TANAHMBUMBU, Kalimantanlive.com – Wakil Ketua DPRD Kalsel Muhammad Syaripuddin mengatakan, salah satu efek pandemi Covid-19 bagi perekonomian masyarakat adalah berkurangnya asupan gizi pada anak-anak mereka terutama anak balita.
“Ditambah kebijakan relokasi anggaran dimungkinkan berpengaruh pada alokasi dana untuk kegiatan pencegahan stunting,” katanya saat melakukan kunjungan lapangan bersama Dinkes Provinsi Kalsel ke Desa Wonorejo Kusan Hulu, Tanah Bumbu, beberapa waktu lalu.
Turut hadir Dinkes Tanah Bumbu, Puskesmas dan pengelola Posyandu, Kader dan perwakilan dari orangtua yang anaknya terindiksi stunting.
BACA JUGA:
Fokus Pendidikan Kader Pratama, Bang Dhin : PDI-P Kalsel Belum Ada Instruksi Soal Pilpres 2024
BACA JUGA:
Covid-19 Merajalela, Bang Dhin Ingatkan Jangan Lupakan Penanganan Stunting di Kalsel
Menurut M Syaripuddin yang akrab disapa Bang Dhin, pembatasan kegiatan masyarakat juga menyebabkan terhentinya layanan posyandu.
“Ada kekhawatiran pandemi Covid-19 akan menambah angka stunting baru,” ujarnya.
Stunting atau kerdil adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan, yaitu dari janin sampai anak berusia dua tahun.

Stunting berpotensi penyakit jantung dan rendahnya kemampuan belajar hingga akhirnya berakibat tidak optimalnya produktivitas dan hal ini tidak diinginkan dalam pembangunan manusia.
Bang Dhin mengatakan, pemerintah telah memberikan dukungan anggaran untuk pencegahan stunting sesuai dengan Permendesa Nomor 19/2017 tentang prioritas penggunaan Dana Desa 2018.
Dana Desa, lanjut dia, dapat digunakan untuk kegiatan penanganan stunting sesuai musyawarah desa.
“20 persen dana desa untuk bidang kesehatan termasuk di dalamnya stunting, buat kegiatannya dengan serius. Dana desa tidak hanya sekadar untuk pembangunan infrastruktur. Desa harus berinovasi,” kata politisi PDI Perjuangan tersebut.







