Tidak ada siklus yang pasti
Rahmat menjelaskan, tidak ada siklus yang pasti pengulangan gerhana Bulan terlama ini.
Proses gerhana sendiri sangat ditentukan oleh konfigurasi posisi Bulan, Bumi, dan Matahari.
Setiap benda yang mengorbit Matahari akan mempunyai bayangan, yang terbagi atas dua bagian, yaitu bayangan utama atau umbra dan bayangan pengiring atau penumbra.
Hal ini juga terjadi pada Bumi. Pada saat gerhana terjadi, Bulan akan memasuki bayangan Bumi.
Pada GBS 19 November 2021, saat puncak gerhananya, yang terjadi pada pukul 09.02 UT (16.02 WIB), hampir seluruh piringan Bulan memasuki umbra (bayangan utama) Bumi.
“Hal ini dinyatakan dengan suatu angka yang disebut dengan magnitudo umbra, yang untuk GBS 19 November 2021 itu nilainya mencapai 0,97885,” tutur dia.
Sebagai catatan, jika magnitudo umbra ini nilainya mencapai angka 1,000 atau lebih, maka gerhananya adalah Gerhana Bulan Total.
Fase puncak: Bulan akan tampak gelap sedikit kemerahan
Adapun jika nilainya kurang dari 0,000, gerhananya adalah Gerhana Bulan Penumbra.
“Dengan melihat nilai magnitudo umbra itu, bisa kita katakan bahwa GBS kali ini adalah GBS yang hampir berupa Gerhana Bulan Total,” papar Rahmat.
Pada saat fase puncaknya nanti, yang hanya teramati di wilayah Papua dan Papua Barat, Bulan akan tampak gelap sedikit kemerahan.
Hal ini terjadi karena adanya hamburan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi dan hanya cahaya kemerahanlah yang sampai ke Bulan untuk kemudian dipantulkan oleh permukaan Bulan dan sampai ke pengamat di Bumi.
Gerhana sejenis (GBS) yang durasi pasialitasnya hampir sama dengan GBS 19 November 2021 adalah GBS 21 November 2086 dengan durasi parsialitas mencapai 3 jam 08 menit 45 detik.










