5 Siswa SMK Penerbangan Batam Dirantai di Leher Lalu Disiksa Selama 2 Tahun, Polisi Sita Barang Bukti Ini

KALIMANTANLIVE.COM – Dunia pendidikan di Indonesia kembali tercoreng oleh ulah oknum yang tidak bertanggungjawab.

Seperti terjadi SMK Penerbangan Dirgantara, Batam, Kepulauan Riau, lima siswanya mengalami penyiksaan yang tidak wajar selama 2 tahun.

Saat ini polisi sedang menyelidiki kasus dugaan penganiayaan terhadap lima siswa SMK Penerbangan Dirgantara yang hangat dibicarakan beberapa hari terakhir.

Diketahui, korban yang masih-masing berinisial IN (17), SA (18), RA (17), GA (17) dan FA (17) telah resmi membuat laporan polisi terkait dugaan penganiayaan yang menimpa dirinya pada Jumat (19/11)

“Kasus penganiayaan ini sedang ditangani oleh penyidik Dit Reskrimum Polda Kepri, Laporan Polisi-nya sudah dibuat yaitu Laporan Polisi nomor : LP-B / 138 / XI / 2021/SPKT-Kepri, Tanggal 19 November 2021,” kata Kabid Humas Polda Kepri Kombes Harry Goldenhardt kepada wartawan, Sabtu (20/11).

Dari pemeriksaan korban, kata dia, penganiayaan dilakukan karena mereka berbuat pelanggaran.

# Baca Juga :Tanpa Roda Kemudi dan Pedal, Mobil Listrik Apple Diperkirakan Meluncur 2025

# Baca Juga :VIRAL Pria di India Melaporkan Kerbaunya ke Polisi, Gegara Menolak Diperah Susunya, Edan!

# Baca Juga :Covid-19 Eropa Makin Parah: Austria Lockdown, Jerman Persempit Ruang Bagi Warganya yang Tak Divaksin

# Baca Juga :VIRAL Video Petugas Dishub Lampung Hajar Sopir Pikap Gara-gara Gagal Menilang karena Surat Lengkap

Namun, Harry belum dapat merinci lebih lanjut alasan kuat yang membuat para siswa itu dianiaya.

“Ada beberapa perlakuan yang dialami korban seperti kekerasan verbal, kekerasan fisik termasuk juga kekerasan dengan menggunakan rantai terhadap anak didik tersebut,” jelas dia.

Penyidik, dijelaskan Harry, telah melayangkan surat permintaan Visum et Repertum untuk mendalami luka-luka pada korban.

Selain itu, dokumen-dokumen foto saat korban dirantai oleh para terduga pelaku juga telah disita penyidik.

Keseluruhan korban merupakan murid dari sekolah penerbangan tersebut.

Menurut Harry, mereka diduga telah dianiaya oleh sejumlah pelaku selama dua tahun sejak baru menginjak bangku pendidikan di kelas satu, hingga kelas tiga.

“Tentunya dengan kejadian ini kita sangat prihatin, di dalam dunia pendidikan kita masih ada dan terjadi hal-hal yang seperti ini yang sebenarnya tidak boleh terjadi,” ucap Harry.