BARABAI, KALIMANTANLIVE.COM – Banjir yang merendam kawasan dataran rendah Kota Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan (Kalsel) kemungkinan bisa lebih lama.
Untuk itu, jajaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten HST mengingatkan masyarakat tetap siaga dan berhati-hati.
Karena, kata Kepala Pelaksana BPBD HST Budi Haryanto, cuaca ekstrem saat ini merupakan dampak La Nina.
Warga yang tinggal di pegunungan wilayah Kabupaten HST juga masih rawan terhadap bencana tanah longsor.
“Untuk masyarakat Kota Barabai dan yang tinggal di daerah rawa-rawa, kami imbau tetap siaga dengan segala kemungkinan. Siapkan logistik dan keperluan dasar lainnya karena kemungkinan terendam akan lebih lama,” kata Kepala Pelaksana BPBD HST, Budi Haryanto, kepada Banjarmasinpost.co.id, Sabtu (27/11/2021).
# Baca Juga :Seluas 984,8 Hektare Lahan Pertanian Terendam Banjir di Kalteng, Paling Banyak di Barito Selatan
# Baca Juga :Mensos Tri Rismaharini Gelar Rapat Darurat Membahas Banjir di Kalteng, Tentukan Titik Lumbung Sosial
# Baca Juga :Mau Cuci Darah ke RS Buntok, Pasutri Tewas Diterjang Banjir di Kalteng, Evakuasi Pakai 2 Alat Berat
# Baca Juga :Banjir Bukit Rawi Kalteng Mulai Surut, Pengendara Harus Waspada Kerusakan Jalan Akibat Tergerus Air
Dijelaskan, saat ini di sub daerah aliran sungai (DAS) Nagara di Kabupaten HSS, khususnya di Muara Sungai Barito berdasarkan prakiraan cuaca air mengalami pasang.
“Kondisi ini memperlambat arus turunnya air sungai yang menyebabkanKota Barabai dan daerah perairan rawa akan lebih lama tergenang,” jelas Budi.
Sementara itu, saat Sabtu siang, Tim BPBD, TNI/Polri, PMI, Relawan Murakata dan relawan lainnya memantau Desa Kayu Rabah dan Desa Jatuh di Kecamatan Pandawan yang merupakan daerah perairan rawa yang juga tergenang.
Menurut Budi, sejumlah rumah penduduk memilih bertahan di rumah masing-masing meski air menggenangi lantai.
Warga sudah menyiapkan diri dengan membuat tempat lebih tinggi di dalam rumah untuk tidur.
“Mereka juga sudah bisa mengevakuasi diri sendiri. Namun, kami tetap meminta warga tetap berkoordinasi jika, khususnya untuk permintaan konsumsi,” jelas Budi.
Disebutkan, Dinas Sosial membuka Dapur Umum di Gedung Juang untuk melayani permintaan drop nasi bungkus bagi warga yang kesulitan beraktivitas karena terkepung air.
Mengenai keperluan logistik, kata Budi, kini kewenangannya beralih ke Dinas Sosial.
Sejak 2020, BPBD HST tak lagi memiliki dana untuk logistic bantuan terhadap korban banjir karena adanya recofusing.










