King Kobra Sepanjang 2 Meter Masuk Kamar Tidur, Warga Palangkaraya Kaget, Neurotoksin Sanggup Membunuh Gajah

PALANGKARAYA, KALIMANTANLIVE.COM – Seekor ular berbisa masuk kamar salah satu warga di Jalan Hiu Putih II Nomor 2, Bukit Tunggal, Jekan Raya, Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Ular berjenis King Kobra ini membuat pemilik rumah kaget bukan kepalang.

Eric Christianto selaku pemilik rumah melaporkan pada Tim Emergency Response Palangkaraya (ERP).

“Eric melapor pada Tim ERP Animal Rescue bahwa ular berwarna emas masuk ke rumahnya, lebih spesifik kamar tidur,” ujar Tim ERP Animal Rescue dan Penanggung Jawab Lapangan, Hendra Herotama, Rabu (1/12/2021).

Tim ERP Animal Rescue langsung menuju lokasi ditemukannya Ular King Kobra, yang sudah lebih berkoordinasi dengan pelapor sebelum berangkat.

“Kita sudah mempersiapkan tongkat penjepit ular dan peralatan lainnya guna evakuasi Ular King Kobra,” kata Hendra Herotama.

# Baca Juga :Naik Rp 40.867, UMK Palangkaraya 2022 Ditetapkan Pemerintah Kota Sebesar Rp 2.972.541

# Baca Juga :Curi Ponsel dan Uang Remaja Ini Remuk Diamuk Massa di Palangkaraya, Polisi Kejar Satu Pelaku yaang Kabur

# Baca Juga :Bencana Banjir di Kota Palangkaraya, Anggota DPRD Minta Pengungsi Dipenampungan Taat Prokes

# Baca Juga :Perempuan Lansia Selamat dari Kebakaran di Palangkaraya, Penghuni Rumah Penyimpanan BBM Kabur

Saat memasuki kamar tidur, tim langsung melakukan evakuasi pada ular.

“Tim langsung melakukan penanganan terhadap ular, kurang lebih 5 menit ular berhasil diamankan dan dievakuasi,” ungkap Hendra Herotama

Ular King Kobra yang berhasil diamankan memiliki panjang 2 meter.

Diperkirakan ular masih berusia remaja melihat dari ukuran tubuh dan panjang Ular King Kobra.

“Setelah berhasil dievakuasi, ular diamankan dan dibawa oleh Tim ERP Animal Rescue,” ucap Hendra Herotama.

Jelasnya, Ular King Kobra akan diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalimantan Tengah.

Akan dilepasliarkan kembali ke habitatnya di alam liar, terutama habitat aslinya yang jauh dari pemukiman dan jangkauan warga.

“Hal ini dilakukan agar terjaga kelestariannya sebagai salah siklus rantai makanan di alam,” pungkasnya.