Kegiatan ini dilakukan untuk membuat warga Myanmar ikut terlibat berjuang melawan rezim junta militer.
Sementara itu, salah satu anggota tim penyelamatan mengatakan pihaknya membawa dua pria dan satu wanita ke rumah sakit militer untuk mendapatkan perawatan.
Mereka semua disebut berada dalam rentang umur 20-an dan memiliki luka yang serius.
Stasiun televisi negara itu juga melaporkan ada 11 protestan yang ditangkap, tiga dari mereka luka-luka.
Tak hanya itu, saksi lain mengaku sempat diancam ketika ia melihat pihak junta menangkap orang-orang.
“Para prajurit menyuruh kami masuk ke dalam atau mereka akan menembak kami,” kata saksi itu sembari menceritakan kalau junta menangkap beberapa orang yang sedang mengambil barang.
Menuai Kecaman
Insiden ini menuai kecaman dari Pemerintah Persatuan Nasional (NUG), yang mana merupakan kelompok oposisi bawah tanah junta Myanmar.
“Sifat serangan yang acak – membunuh dan melukai orang tanpa pandang bulu, bukanlah kecelakaan. Niat junta itu jelas: menciptakan ketakutan dan kepanikan sebanyak mungkin. Menimbulkan rasa sakit, trauma, dan penderitaan sebanyak mungkin, tanpa peduli siapa korbannya. Menegaskan pesan bahwa siapa pun dapat dibunuh, ditangkap, dipukuli, atau dilukai setiap saat, hanya karena berada di tempat yang salah,” kata pernyataan NUG yang ditandatangani oleh juru bicara kelompok dan menteri kerja sama internasional, Dr. Sasa.
Kedutaan Besar Amerika Serikat juga turut mengecam kejadian ini. Mereka menyampaikan bahwa pihaknya, “ngeri dengan laporan yang mengatakan kalau pasukan keamanan melepaskan tembakan ke arah pengunjuk rasa damai di Yangon, dan membunuh mereka.”
“Kami mendukung hak rakyat Burma untuk melakukan protes secara damai,” tambah kedutaan, dikutip dari CNN.
Penabrakan ini terjadi kala Myanmar tengah menunggu vonis pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi. Suu Kyi mendapatkan hampir selusin dakwaan, mulai dari tindakan penghasutan hingga protokol Covid-19. Suu Kyi membantah semua dakwaan itu.
editor : NMD
sumber : CNN Indonesia









