Wartawan Reuters Filipina Peraih Pulitzer Tewas Ditembak di Kepala, Pernah Liput Perang Narkoba Duterte

Diketahui Malabanan merupakan reporter pertahanan hingga tahun 1990-an dan menjadi koresponden untuk media lokal Manila Standard di wilwyah Luzon Tengah.

Surat kabar Manila Standard mengonfirmasi kematian Malabanan dalam pernyataan kepada AFP.

Selain itu diketahui juga bahwa Malabanan bekerja sebagai stringer untuk media internasional terkemuka, Reuters.

Dalam pernyataan terpisah, Reuters menyatakan pihaknya ‘sangat sedih’ mengetahui meninggalnya Malabanan.

Disebutkan Reuters bahwa Malabanan terlibat dalam liputan soal perang narkoba di Filipina yang digaungkan Presiden Rodrigo Duterte.

Meraih Pulitzer Prize tahun 2018.

Seorang wartawan lainnya, Many Mogato, yang juga bekerja untuk Reuters mengungkapkan bahwa Malabanan pernah mendapatkan ancaman pembunuhan. Ancaman tersebut dikatakan terjadi saat Malabanan berada di San Fernando, Pampanga.

“Jess (nama panggilan Malabanan) banyak membantu Reuters dalam kisah perang narkoba yang memenangkan Pulitzer tahun 2018. Reuters membantunya bersembunyi selama berbulan-bulan di Samar ketika dia diancam di San Fernando, Pampanga,” tulis Mogato via Facebook seperti dilansir Rapper.com.

NUJP Provinsi Pampanga dalam pernyataannya mengecam keras kematian Malabanan sebagai ‘pembunuhan tidak masuk akal’. Sedangkan Pampanga Press Club mendorong Kepolisian Nasional Filipina untuk mencari pembunuh Malabanan dan menjebloskan mereka ke penjara.

Kematian Malabanan terjadi kurang dari dua bulan setelah seorang wartawan Filipina lainnya, Orlando Dinoy, ditembak mati di dalam apartemennya di Davao del Sur. NUJP saat itu menyebut Dinoy sebagai wartawan ke-21 yang tewas dibunuh sejak Duterte menjabat tahun 2016.

editor : NMD
sumber : detik.com