MIRIS, Penduduk Madagaskar Makan Kaktus dan Belalang Dampak Kelaparan Parah Akibat Kekeringan

ANTANANARIVO, KALIMANTANLIVE.COM – Kelaparan parah melanda Madagaskar dalam beberapa tahun terakhir ini.

Warga Madagaskar selatan dilaporkan memakan kaktus dan belalang, akibat kekeringan berturut-turut dan badai pasir yang merusak panen.

Program Pangan Dunia PBB (WFP) yang dikutip Al Jazeera pada 30 April 2021 melaporkan, ratusan ribu orang Madagaskar di ambang kelapran.

Amer Daoudi, direktur senior operasi WFP global, memperingatkan bahwa kehidupan anak-anak Malagasi dalam bahaya, terutama yang berusia di bawah lima tahun yang kekurangan gizinya mencapai tingkat mengkhawatirkan.

Berbicara melalui video call dari ibu kota Madagaskar, Antananarivo, Daoudi mengatakan dalam briefing PBB di Jenewa, dia mengunjungi desa-desa di mana orang-orang harus bertahan hidup yang cara yang putus asa, seperti makan belalang, kaktus merah mentah, atau daun liar.

# Baca Juga :50 Orang Tewas Setelah 5 Negara Bagian di AS Dihajar Tornado: Kentucky, Illinois, Arkansas, Missouri dan Tennessee

# Baca Juga :4 Mahasiswi Dilecehkan Dosen di Kampus, HMI Lhokseumawe Bujuk Korban untuk Sebut Nama Pelaku

# Baca Juga :Suami Gerebek Istri Lagi Selingkuh dengan Pria Lain di Hotel, Gunakan Aplikasi Pelacak Ponsel

# Baca Juga :Artis BJ Ditangkap karena Narkoba, Ben Joshua Buru-buru Klarifikasi Bukan Dirinya

“Kelaparan membayangi Madagaskar selatan ketika masyarakat menyaksikan hilangnya hampir seluruh sumber makanan yang menciptakan keadaan darurat gizi parah,” terang Daoudi.

“Saya menyaksikan… gambaran mengerikan dari anak-anak kelaparan, kekurangan gizi, dan tidak hanya anak-anak… ibu, orang tua dan penduduk di desa-desa yang kami kunjungi,” lanjut Daoudi yang merupakan pekerja bantuan veteran.

“Mereka berada di ambang kelaparan; ini adalah gambaran yang sudah lama tidak saya lihat di seluruh dunia.”

Madagaskar adalah salah satu negara termiskin di Afrika. Kurangnya layanan dasar, dari kesehatan dan pendidikan hingga kesempatan kerja, serta kemiskinan dan perubahan iklim membuat banyak dari 26 juta penduduknya terkena bencana.

WFP mengatakan, panen diperkirakan hampir 40 persen di bawah rata-rata lima tahun.

Malnutrisi anak-anak balita hampir naik dua kali lipat menjadi 16 persen dari sembilan persen dalam empat bulan hingga Maret 2021, setelah lima tahun berturut-turut kekeringan, dan tahun ini diperburuk dengan badai pasir dan hujan.