KALIMANTANLIVE.COM – Covid-19 varian baru Omicron kini merajalela di Amerika Serikat (AS), dengan lebih dari 73 persen kasus baru infeksi Covid-19 di AS disebabkan oleh varian ini.
Covid-19 varian baru Omicron ini mengalahkan varian Delta yang sebelumnya ‘berkuasa’ di Negeri Paman Sam tersebut.
Dari Sabtu (18/12), Omicron menyumbang 73,2 persen kasus baru infeksi virus corona di AS, sementara Delta hanya 26,6 persen.
# Baca Juga :Perlambat Penyebaran Varian Covid-19 Omicron, Inggris Terapkan Aturan Baru untuk Pelancong
# Baca Juga :FAKTA Varian Baru Covid-19 Terdeteksi di Indonesia, Ingat Ini 7 Hal Penting Terkait Omicron
# Baca Juga :Ditemukan pada Staf Bandara, Singapura Konfirmasi Kasus Pertama Covid 19 Varian Omicron
# Baca Juga :Indonesia Tetap Berangkatkan Jemaah Umrah ke Arab Saudi meski Ada Varian Omicron, Trubus: Kebijakan yang Dipaksakan
Angka ini berbeda jauh dengan yang terjadi pada pekan sebelumnya hingga Sabtu (11/12). Kala itu, Omicron diprediksi menjadi biang kerok atas 12,6 persen virus yang beredar, sementara Delta masih dominan di angka 87 persen, dikutip dari CNN.
Sementara itu, varian Omicron telah terdeteksi di setidaknya 47 negara bagian AS sampai pada Senin (20/12). Tak hanya itu, wilayah AS juga harus berhadapan dengan infeksi varian Delta yang sempat menjadi biang kerok kasus Covid-19 dunia.
Mengutip Associated Press, varian Delta menjadi biang kerok kasus infeksi Covid-19 di AS. Sampai pada akhir November, lebih dari 99,5 persen kasus Covid-19 di negara itu merupakan varian Delta.
Kepala Scripps Research Translational Institute, Dr. Eric Topo mengatakan, walaupun berbagai negara juga mengalami lonjakan kasus Covid-19 akibat varian Omicron, AS mengalami lonjakan infeksi yang ‘luar biasa di waktu yang cepat.’
Topol menyampaikan bahwa masih belum jelas bahaya Omicron dibandingkan varian lain.
“Ini adalah ketidakpastian yang sangat besar saat ini,” kata Topol.







