kalimantanlive.com – Tiga warga RI kembali dilaporkan positif terjangkit corona varian omicron, dan menambah total pasien menjadi 8 orang.
Jubir Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengungkap, 3 orang tersebut adalah pekerja migran Indonesia atau PMI dari 2 negara berbeda.
“Saat ini sudah ada tambahan kasus lagi, satu orang dari Malaysia dan dua orang dari Kongo. Mereka ini Pekerja Migran Indonesia. Saat ini mereka sedang menjalani karantina di Wisma Atlet Jakarta,” kata Nadia.
Kasus ini berdasarkan whole genome sequencing atau WGS yang dilakukan masif saat kasus pertama ditemukan.
Hasilnya baru keluar pekan ini.
3 kasus Omicron terbaru di RI merupakan PMI dari Kongo dan Malaysia. Ketiganya positif saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta.
Namun Nadia tak merinci kapan ia tiba.
Saat ini kasus-kasus ini tengah dikarantina di Wisma Atlet Jakarta.
BACA JUGA: Capai 3 Miliar Streaming di Spotify, Lagu Shape Of You Ed Sheeran Catat Rekor, Ini Benar-benar Gila
Nadia menyebut, mereka bertiga mengalami gejala ringan.
“Gejala ringan, batuk,” ungkap Nadia.
Kemendagri menerbitkan Surat Edaran terkait antisipasi lonjakan kasus COVID-19 akibat varian Omicron.
Dalam SE Nomor 440/7183/SJ, setiap daerah di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota diminta untuk mempersiapkan potensi lonjakan kasus, salah satunya dengan menyediakan tes khusus untuk skrining awal Omicron.
Terdapat sebuah tes PCR menggunakan reagen khusus dapat mendeteksi adanya S gene Target Failure atau SGTF, yakni sebuah kondisi yang mengindikasikan adanya varian Omicron pada sampel diambil.
“Dalam rangka deteksi dini varian Omicron, berkoordinasi bersama Kementerian Kesehatan guna melengkapi laboratorium daerah masing-masing dengan fasilitas tes PCR-SGTF serta memastikan sampel probable Omicron dilakukan sekuensing genomik,” seperti yang tertulis dalam SE tersebut.
Dengan penggunaan tes PCR-SGTF, diharapkan dapat menjadi skrining awal sebelum nantinya dipastikan lagi melalui Whole Genome Sequencing.
Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19, Prof. Wiku Adisasmito mengatakan, para penyintas corona tersebut tentu tak dapat menularkan virus corona kepada masyarakat.
“Penyintas tidak lagi mampu menularkan ke orang lain,” kata Wiku.
Walau begitu, menurut Wiku, sampai saat ini penelitian mengenai varian Omicron masih terbilang terbatas.
Untuk itu, masyarakat masih harus terus mewaspadai adanya penularan corona di tengah masyarakat sebab mayoritas yang terinfeksi itu dalam kondisi sehat.
“Kita masih harus waspada mengingat data-data awal kasus Omicron bergejala ringan bahkan tak bergejala,” lanjut Wiku.
Sampai saat ini walau Omicron telah dideteksi, kasus corona di Indonesia masih berada di bawah kendali.
Hal ini terbukti dari angka keterisian tempat tidur di rumah sakit untuk pasien COVID-19 yang masih rendah secara nasional yakni 22,73%.
Jumlah penumpang dari luar negeri yang tiba di Indonesia masih terus mengalir di tengah ancaman corona Omicron.
3.000 sampai 4.000 orang tiba dari berbagai negara per harinya.
“Seperti hari ini ada 28 penerbangan dengan 3.400 penumpang (tiba di Bandara Soekarno-Hatta). Nah tes ini yang dilakukan memang sejauh ini terbukti efektif untuk melakukan skrining,” kata Ketua Bidang Komunikasi Publik Satgas COVID-19 Hery Trianto.
Dari sana, ada sejumlah penumpang di beberapa penerbangan yang terdeteksi positif saat tiba di Soetta.
BACA JUGA: Omicron Mulai Merebak di Indonesia, Pakar UGM Sebut Vaksin Merah Putih Bisa Jadi Booster
Seperti yang terjadi 2 hari lalu pada maskapai Turkish Airlines.
“Seperti dua hari lalu kita kedapatan 17 pelaku perjalanan menggunakan salah satu maskapai penerbangan dari Turkish Airline yang kemudian positif COVID-19,” tuturnya.
Sesuai prosedur, semua penumpang positif corona tersebut langsung diisolasi.
Hal ini menandakan virus masih ada di mana-mana.
Kepala Bidang Penanganan Kesehatan Satgas COVID-19 Alexander Ginting menyebutkan terdapat temuan kasus probable atau diduga varian Omicron pada pintu perbatasan internasional di Entikong dan Aruk.
Kasus probable ini diperoleh berdasarkan hasil tes PCR khusus yang dapat mendeteksi SGTF yang merupakan salah satu tanda dicurigainya varian Omicron. Padahal orang tersebut sudah divaksinasi.
“PCR ini karena ini merupakan untuk skrining di mana kebutuhannya 4-6 jam sementara kalau nunggu WGS 3-5 hari, sehingga sebagaimana dilaporkan Kemenkes, misalnya di Entikong ada probable, di Aruk (perbatasan Kalimantan) ditemukan juga probable padahal sudah vaksin ini semua dalam rangka skrining,” ungkap Alex.
Pemeriksaan PCR-SGTF tersebut memang berfungsi sebagai tahap skrining awal kasus Omicron,
Namun untuk hasil akhirnya, perlu dibuktikan melalui WGS.
“Tentu nanti kita tunggu hasil WGS. Kalau tidak salah hari ini ditambah 3 yang WGS-nya Omicron. Jadi ini sudah diperkuat kapasitas lab-nya baik di pelabuhan, bandara, di lintas darat,” tutup Alex.
(M Khaitami/kumparan)









