Hanifah menyebutkan, dengan mengetahui posisi nilai IKLH, kita tahu apa saja yang masih kurang. Misalnya, ujarnya, saat ini Kalsel masih jelek pada indeks tutupan hutan.
“Saat ini kita baru pada posisi 50 lebih, tetapi posisi itu lebih baik daripada tahun kemarin di angka 48,48. Hal ini berarti Kalsel sudah ada peningkatan dari unsur tutupan lahan” ujarnya.
Peningkatan tutupan lahan ini, lanjut Hanifah, karena kita sudah berprogres pada Revolusi Hijau yang dilaksanakan di akhir 2017. Sekarang, kata Hanifah, tajuk tanaman sudah terhubung, sehingga terlihat dari citra satelit dan sudah bisa dimasukkan secara grafis dan analisis sebagai tutupan hutan dan lahan.
BACA JUGA:
Warga Khawatir Datang Banjir Bandang Akibat Tanah Longsor Tutupi Sungai di Pantai Mangkiling Kalsel
“Ketika tanaman masih kecil-kecil yang terlihat dari citra satelit berwarna coklat, sekarang sudah hijau karena tajuk tanaman sudah tersambung,” katanya.
Terkait kondisi seperti banjir yang terjadi saat ini, kata Hanifah, sudah pasti juga berpengaruh terhadap lingkungan hidup, tetap bukan berarti kualitas lingkungan hidup jelek.
“Kualitas lingkungan hidup tidak bisa hanya diukur apple to apple. Kualitas lingkungan hidup parameternya adalah Indeks Kualitas Lingkungah Hidup. Sedangkan banjir adalah perspektif berbeda,” ujarnya.
Saat rapat bersama Pansus 3 DPRD Kalsel, kata Hanifah, pihaknya memaparkan apa yang menjadi isu lingkungan, bagaimana pressure terhadap isu lingkungan dan merespons isu tersebut, serta beberapa sasaran, program, dan kegiatan yang nantinya diharapkan dapat meningkatkan kualitas lingkungan hidup di Kalsel.
“Program Sungai Martapura Bungas juga menjadi satu fokus dari enam program prioritas lingkungan hidup DLH Kalsel,” katanya.







