Demi Penghasilan yang Berlipat-lipat, Petani di Kabupaten Tanahlaut Tebangi Pohon Karetnya

Wakit, petani Desa Ujungbatu Kecamatan Pelaihari menuturkan dirinya punya enam kavling kebun masing-masing ukuran tiga perempat hektare.

Sekali panen dirinya dapat hasil Rp 16-an juta.

Tebang Pohon Karet

Ada juga petani yang alih komoditas dari semula tanaman karet diubah menjadi kelapa sawit.

Contohnya Anton warga Jalan KH Dewantara Pelaihari.

Dirinya baru saja membeli satu kavling lahan seluas tiga perempat hektare di Desa Ujungbatu.

“Semula lahan yang saya beli berupa kebun karet tapi memang kurang terurus. Semuanya saya tebang dan saya tanami sawit,” paparnya.

Anton mengaku tidak merasa rugi melakukan langkah itu demi penghasilan jangka panjang yang lebih menggiurkan dari panenan sawit.

Pasalnya dirinya telah merasakan langsung nikmatnya berkebun sawit.

“Saya sudah punya dua kavling kebun sawit. Sekali panen saya dapat hasil sekitar Rp 3 juta. Ini hasil bersih, saya tidak perlu capek-capek memetik TBS karena semua dikerjakan pengepul. Saya tinggal duduk manis saja,” sebutnya.

Padahal kebun sawitnya tersebut baru berusia empat tahun, panen perdana dan masih berupa buah pasir.

Jika telah usia produktif yakni enam tahun, ia meyakini hasil yang didapatkannya bakal lebih besar lagi.

“Modalnya bertanam sawit sekitar Rp 20-30 juta, mulai dari biaya pembelian bibit bersertifikat hingga pemupukan. Saat awal saja yang mungkin agak berat, tapi setelahnya ringan biaya perawatannya,” jelas Anton.

Satu kavling kebun baru sawitnya sekitar beberapa bulan lalu ia tanam dengan pola tumpangsari dengan alpukat.

Sebelumnya seluruh pohon karet usia lima tahun, ia tebang.

Guna menekan biaya penyiapan lahan tanam sawit dan alpukat tersebut, Anton memberikan tegakan pohon karet miliknya kepada peternak ayam.

“Kalau saya tebang sendiri, perlu biaya Rp 20-an juta. Nah, saya datangi peternak ayam yang memerlukan kayu bakar untuk penghangatan kandang. Saya silakan tebang dan angkut sehingga sama-sama mendapat manfaat,” tandasnya.

Dikatakannya, harga bibit kelapa sawit bersertifikat sekitar Rp 40 ribu.

Anton menerapkan jarak tanam 8×9 meter sehingga dalam sekavling kebunnya bisa dapat 100 batang lebih jika tanam penuh sawit.

Mengapa tak mempertahankan tanaman karetnya? Anton beralasan lantaran pemanen (penyadapan) getah karet tak bisa dilakukan sepanjang waktu, ketika hujan tak bisa menyadap.

Selain itu harga dan prospek pasarnya juga tak seluas sawit.

“Kalau sawit kan makin luas produk olahannya. Tak cuma untuk minyak goreng, makanan, dan kosmetik saja. Sekarang juga untuk biodesel. Jadi, ke depan tambah bagus pasar sawit,” sebut Anton.

editor : NMD
sumber : banjarmasin.tribunnews.com