Terkurung di Rumah Sendiri, Warga China di Xi’an Menderita, Tak Ada Makanan & Tak Ada Medis

JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Untuk mengatasi penyebaran virus corona, Covid-19 yang simakin tak terkendali, Pemerintah China menerapkan penguncian (lockdown) di Xi’an.

Akibat langkah Pemerintah China tersebut membuat nasib warga di Xi’an semakin menderita.

Masyarakat di Xi’an terkurung di rumahnya sendiri akibat lockdown.

Dalam dua pekan terakhir, media sosial China telah dipenuhi dengan keluhan warga terkait lockdown.

Beberapa warga mengaku mereka tak mendapatkan makanan, perlengkapan dasar, bahkan perawatan medis.

Salah satu netizen mengungkapkan kisah perempuan hamil yang ditolak masuk rumah sakit kala Tahun Baru 2022 karena dia tak memiliki hasil tes Covid-19 yang valid.

Netizen yang mempublikasikan cerita ini merupakan keponakan dari perempuan hamil tersebut.

# Baca Juga :Pulang dari Piala AFF 2020 di Singapura, Kok Timnas Indonesia Dapat Dispensasi Karantina Covid-19?

# Baca Juga :Meski Gejalanya Lebih Ringan, Jangan Remehkan Covid-19 Omicron

# Baca Juga :CINTA SEJATI, Pasangan Ini Hembuskan Nafas Terakhir Berpegangan Tangan setelah Berjuang Lawan Covid-19

# Baca Juga :GAWAT Juergen Klopp & Semua Kiper Liverpool Positif Covid-19, The Reds Minta Laga Semifinal Lawan Arsenal Ditunda

Perempuan hamil itu terlihat duduk di depan rumah sakit, dengan darah mengalir di kakinya. Ia kemudian diizinkan masuk dua jam kemudian, tetapi harus mengalami keguguran. Unggahan ini dipublikasikan di Weibo sebelum dihapus, dikutip dari CNN.

Seorang staf dari Rumah Sakit Xi’an Gaoxin, tempat perempuan hamil itu mencari perawatan, tengah menyelidiki insiden tersebut. Ia juga menuturkan pihaknya menolak perempuan itu karena regulasi Covid-19 pemerintah.
Meninggal Karena Ditolak RS di Xi’an

Di platform media sosial China, Xiaohongshu, seorang pengguna meminta bantuan pada Minggu (2/1) karena rumah sakit lokal menolak merawat ayahnya yang baru saja terkena serangan jantung. Penolakan ini dilakukan karena keluarganya tinggal di bagian kota yang ‘berisiko sedang’.

Pengguna medsos itu kemudian mengunggah lanjutan ceritanya. Ia bercerita bahwa sang ayah tak diizinkan masuk untuk melakukan operasi darurat saat situasinya makin buruk.

“Keterlambatannya terlalu lama dan upaya penyelamatan gagal. Saya tak lagi memiliki ayah,” ceritanya.