Kuwait jelas tidak sanggup melawan Irak. Oleh karena itu, mereka mencoba menarik simpati internasional, terutama Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.
Selama invasi Kuwait, tentara Irak terbukti melakukan penjarahan, pemerkosaan, penyiksaan, pembunuhan, dan pencurian aset ekonomi secara sistematis.
Akan tetapi, AS butuh alasan yang lebih kuat untuk mengerahkan pasukannya maupun menggalang dukungan dari sekutunya untuk terlibat dalam Perang Irak-Kuwait.
Kebuntuan itu akhirnya terpecahkan dua bulan setelah invasi Irak ke Kuwait, melalui kesaksian seorang gadis Kuwait berusia 15 tahun bernama Nayirah.
Pada 10 Oktober 1990, Nayirah bersaksi di hadapan Kongres AS mengenai kekejaman tentara Irak ketika menginvasi Kuwait.

Nayirah mengungkapkan horor ketika pasukan Irak menyerbu Rumah Sakit Al Adan di Kota Kuwait, tempat ia bekerja sebagai perawat sukarela.
Dalam kesaksian yang disiarkan langsung itu, Nayirah mengungkapkan bahwa tentara Irak merenggut bayi-bayi prematur yang dirawat di rumah sakit dari inkubator, dan membiarkan mereka tewas begitu saja.
“Saya melihat tentara Irak memasuki rumah sakit sambil menenteng senapan. Mereka merenggut bayi-bayi itu dari inkubator dan membiarkan anak-anak itu tewas di lantai yang dingin. Itu sangat mengerikan,” kata Nayirah sambil berurai air mata.
Kesaksian itu bagai petir di siang bolong di hadapan Kongres dan seluruh rakyat AS yang saat itu menyaksikan siaran langsung kesaksian Nayirah.
Rakyat dan pemerintah Amerika yang semula ragu-ragu untuk terlibat dalam Perang Teluk, mulai mendukung pengerahan pasukan untuk menghentikan kekejaman Irak.
Dan pada 12 Januari 1991, Kongres AS menyetujui pengerahan militer untuk membebaskan Kuwait dari Irak dan diktator kejam bernama Saddam Hussein.
Namun, setelah Perang Teluk berakhir, terungkap fakta mengejutkan. Kesaksian Nayirah di hadapan Kongres AS itu ternyata palsu.







