Kesaksian palsu Nayirah al-Sabah
Kesaksian palsu Nayirah menjadi alasan kuat bagi AS untuk terjun ke Kuwait dengan dukungan penuh rakyat Amerika Serikat.
Tidak ada yang meragukan kesaksian gadis muda, yang sambil berurai air mata, memohon bantuan di hadapan pemerintah negara asing untuk mengusir penjajah yang telah memporak-porandakan tanah kelahirannya.
Amerika Serikat, akhirnya, memiliki alasan kuat untuk menegakkan keadilan dan memperjuangkan hak asasi manusia di tanah asing yang jauh di seberang lautan.
Berselang hampir dua tahun setelah Perang Teluk berakhir, terungkap bahwa kesaksian itu adalah sebuah cerita yang sengaja disusun untuk menarik simpati publik AS.
Melansir The Guardian, kisah bayi-bayi Kuwait yang menjadi korban kekejaman tentara Irak pertama kali dilaporkan oleh Daily Telegraph di London pada 5 September 1990.
Namun kisah itu kurang membangkitkan simpati. Laporan tersebut belum diverifikasi, tidak dilengkapi dengan gambar yang bisa ditayangkan, dan tidak ada wawancara dengan ibu yang berduka atas kematian bayinya.
Kisah itu kemudian diperbaiki, dan diceritakan ulang oleh Nayirah di hadapan Kongres AS dengan akting yang sangat meyakinkan.
Siapa yang berada di balik semua itu?
Upaya menarik simpati publik AS agar mendukung intervensi militer ke Kuwait itu dilakukan oleh Citizens for a Free Kuwait.
Organisasi itu didanai oleh pemerintah Kuwait yang berada di pengasingan usai serbuan Irak.
Citizens for a Free Kuwait menandatangani kontrak senilai 10 juta dollar AS dengan perusahaan public relation terkemuka Amerika, Hill & Knowlton.
Hill & Knowlton mengatur agar seorang gadis Kuwait berusia 15 tahun menceritakan kisah bayi-bayi yang tewas karena direnggut dari inkubatornya di hadapan anggota Kongres AS.
Nayirah melakukannya dengan cemerlang. Ia menitikkan air mata pada saat yang tepat, dan suaranya bergetar dipenuhi kesedihan dan ketakutan saat bercerita.
Siaran televisi memperlihatkan dengan jelas kemarahan para anggota kongres saat mendengarkan kesaksian Nayirah.
Presiden AS saat itu, George H. W. Bush, mengulang cerita itu berkali-kali dalam pidatonya, sebagai contoh kejahatan rezim Saddam Hussein.







