Sementara itu, Mada’in Saleh merupakan salah satu kota dalam situs Warisan Dunia UNESCO. Area ini telah berumur 2.000 tahun dan diukir oleh orang Nabatean, masyarakat Arab pra-Islam yang juga membangun Petra di Yordania.
Namun, kawasan ini dipercaya kena kutukan dan merupakan wilayah kaum Tsamud yang sempat diazab Tuhan.
Kenapa Dinamakan Kota Hantu?
Wilayah tersebut tercatat sudah dihuni manusia sejak ribuan tahun silam.
Di daerah yang kini disebut Al-Ula tersebut, sekitar dua ribu tahun silam, sempat berdiam suku kuno Arab, Lihyan, yang diperintah Dinasti Nabatean dari pusat kerajaan di wilayah Jordania saat ini.
Selain permukiman, mereka juga membangun kuburan-kuburan massif dengan memahat gunung-gunung batu di wilayah al-Hijr (Bebatuan) yang kini disebut Madain Saleh sekira 22 kilometer dari pemukiman.
Jejak arkeologis mencatat, kediaman-kediaman Kaum Tsamud dan Kaum ‘Ad ditinggal penghuninya sejak sebelum masa Rasulullah. Kendati demikian, batu-batu bekas rumah suku tersebut kembali digunakan warga yang tinggal di situ belakangan.
Pada abad ke-13, kompleks hunian di Al-Ula kian padat seiring kian ramainya karena digunakan sebagai jalur perdagangan rempah-rempah.
Pengelana mahsyur Ibn Battuta sempat melintasi juga wilayah itu pada abad ke-14 atau tepatnya pada 1326.
Saat itu, Ibn Battuta mencatat bahwa anggota rombongan karavan yang ia sertai juga enggan berhenti untuk minum di daerah tersebut meski kehausan.
Konon Al-Ula dan Madain Saleh disebut kota hantu atau kutukan, karena tidak seperti Petra, dengan turis, penjual suvenir, dan ojek keledai; tidak ada orang lain di sini.
Kebanyakan Muslim (Saudi) tidak akan datang ke sini karena mereka yakin bahwa situs ini dikutuk ketika bangsa Nabath menolak masuk Islam dan meninggalkan para dewa mereka, dan turis untuk non-Muslim yang hendak ke Arab Saudi sulit mendapatkan visa, sehingga tidak akan bisa masuk.









