Absennya pengunjung dan juga iklim kering gurun Arab Saudi, itulah yang membuat Madain Saleh begitu utuh.
Sementara fasad-fasad Petra pelan-pelan rusak, makam ini sangat terjaga secara mencengangkan.
Di lokasi itu tampak bangunan bagunan rusak dari tanah liat yang tampak hancur seperti kota hantu.
Sekitar 500 rumah-rumah berbentuk kubus yang didirikan dari bebatuan dan dilapisi lumpur tersebut kebanyakan sudah roboh sebagian tanpa penghuni sama sekali.
Reruntuhan menutupi setapak sempit yang memisahkan masing-masing rumah. Masih ada sisa-sisa atap dari pelepah kurma di sebagian rumah.
Kini, bangunan kuno tua itu berdampingan dengan bangun baru yang merupakan cikal bakal mulai ramainya kota hantu itu dipadati penduduk modern.
Sebuah universitas pun berdiri di sana, bahkan hotel-hotel menjulang tinggi, dilingkari para pedagang dan rumah warga yang umumnya adalah petani kurma, jeruk dan delima. Ada juga warga yang beternak unta dan kambing.
Tanah Subur
Okezone dan Tim MCH beruntung bisa bertemu Khaled Abdullah (65 tahun), seorang warga setempat. Ia pun sedikit menceritakan sejarah dua kota tersebut. “Lokasi itu dulu ditempati kaum Tsamud, tapi sekarang sudah tidak ada sama sekali keturunannya di sini,” kata pria tersebut saat ditemui di tepian kota al-‘Ula.
Kaum Tsamud saat ini sudah digantikan dengan penduduk dari wilayah Hijaz lainnya seperti Khaled.
Sehubungan tanah yang subur dan persediaan air tanah yang lancar sejak ribuan tahun lalu, kebanyakan mereka berprofesi sebagai petani.
Khaled, misalnya, saat ini memiliki sekira 7.000 meter persegi area kebun yang ditanami kurma, jeruk, anggur, dan delima.









