TASIKMALAYA, KALIMANTANLIVE.COM – Seorang pelajar sekolah dasar (SD) meninggal dunia setelah divaksin pada Senin (18/1/2022) kemarin.
Kejadian yang tak diinginkan itu dialami bocah bernama DMZ (10), yang bersekolah di kelas V Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kersamenak, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya.
Sebelumnya, siswa tersebut mengikuti vaksinasi anak umur 6-11 tahun pada Sabtu (16/1/2022).
Ia kemudian mengalami kejang-kejang dan penurunan kesadaran lalu kritis sampai dibawa ke RSUD Soekardjo Kota Tasikmalaya, Minggu (17/1/2022) malam.
Sampai akhirnya, siswa tersebut meninggal dunia di rumah sakit saat menjalani perawatan pada Senin petang.
# Baca Juga :Kejar Target Vaksinasi Awal 2022, Bupati Banjar Minta Semua Pihak Sosialisasikan Keamanan Suntik Vaksin
# Baca Juga :Genjot Vaksinasi Lansia, Bupati Kotim Halikinnor Perintahkan Petugas ‘Door to Door’ ke Rumah Warga
# Baca Juga :Vaksin Booster Gratis, Ini Info Lengkap Soal 5 Vaksin dari Waktu Pemberian hingga Sifatnya
# Baca Juga :Pemkab Kotim Belum Gelar Vaksinasi Booster, Prioritaskan Vaksinasi Dosis Kedua yang Masih 40,35 Persen
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya Uus Supangat membenarkan adanya siswa yang meninggal dunia usai divaksin tersebut.
Dirinya pun sempat kaget dan segera mengecek analisa dokter terkait penyebab kematian anak itu sesuai anjuran sekolahnya.
“Nah ini kan yang meninggal di RSUD pada awalnya diduga KIPI murni (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi). Saya sudah bicara panjang lebar dengan dokter bagian perawatan intensif, kemudian dengan Ketua KIPI dan dokter spesialis anak menyampaikan, setelah dilakukan pemeriksaan ternyata ada penyakit lain yang mendasarinya,” ujar Uus saat dikonfirmasi Senin Malam.
Uus menambahkan, penyebab siswa itu meninggal diduga saat divaksinasi sedang mengalami serangan penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang sedang dalam masa inkubasi.
“Jadi yang menyebabkan fatalitas (kematian) itu belum bisa dipastikan karena imunasi. Karena ada penyakit yang mendasarinya. Dari hasil tim dokter anak di RSUD, penyebab fatalitasnya itu karena expanded dengue atau demam berdarahnya. Nah, konklusi medis ini bisa diambil karena ada hasil NS1 yang positif, penanda bahwa anak tersebut terinfeksi DBD,” tambahnya.







