PELAIHARI, KALIMANTANLIVE.COM – Aksi demonstrasi ke perusahaan besar swasta (PBS) nasional yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit terjadi di Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel).
Sekitar 200 orang warga dari beberapa desa di Kecamatan Kintap hari ini, Senin (24//1/2022) pagi ngeluruk ke kantor PT Kintap Jaya Wattindo (KJW).
Tercatat, 200 orang warga itu berasal dari Desa Kintap, Kintapkecil, Pandansari, dan Pasirputih.
# Baca Juga :Bakal Demo di Polda Kalteng, Koalisi Ormas Kalteng Kecam Edy Mulyadi, Hina Kalimantan Tempat Jin Buang Anak
# Baca Juga :KESEMPATAN Baik Bagi Nakes, Negara Kaya Rekrut Perawat dari Negara Miskin Hadapi Omicron yang Melonjak
# Baca Juga :BUNTUT Penghinaan Edy Mulyadi, Banteng Borneo Perjuangan Ikut Kecam: Bisa Hancurkan NKRI!
# Baca Juga :HINA Kalimantan, Edy Mulyadi Minta Maaf Seraya Menyerbut Bumi Serpong Damai Juga Tempat Jin Buang Anak
Menuju kantor PT KJW yang berjarak sekitar tiga kilometer, mereka sebagian besar menaiki kendaraan roda dua.
Warga tersebut juga membawa alat peraga seperti sound system, spanduk, baliho, kertas karton bertuliskan sejumlah aspirasi atau tuntutan yang ditujukan kepada pihak perusahaan.
Dipimpin korlap aksi demonstrasi, Jamhari dan Ijus, mereka bergerak dari rumah tokoh pemuda Kintap, Syahrun, di Jalan Kasih Dangsanak RT 07 RW 03 Dusun III nomor 57 Pamukiman (Gang B) membawa sejumlah tuntan.
Ada lima hal yang disuarakan atau dituntut pendemo tersebut, yaitu:
– Mendesak PT KJW menyelesaikan lahan sengketa
– Membebaskan masyarakat membrondol di lahan yang di luar HGU
– Meminta PT KJW mengembalikan lahan yang kena kawasan hutan produksi
– Meminta PT KJW untuk tidak membuang limbah ke lahan basah
– Meminta PT KJW menunjukkan Amdal
“Kami di sini kebanyakan usaha membrondol atau memetik limbah sawit yang saat ini tidak bisa lagi yang akhirnya di kampung kami banyak maling, karena tidak bisa lagi bekerja,” ucap Syahrun, tokoh pemuda Kintap.
Jika KJW tidak memberi ruang gerak bagi warga sekitar kebun sawit untuk berusaha memungut buah sawit sisa, mereka menyebut perusahaan itu sama saja dengan penjajah.







