JENEWA, KALIMANTANLIVE.COM – Saat ini negara-negara maju dan kaya sedang menggenjot perekrutan perawat dari negara-negara miskin.
Hal itu dilakukan akibat lonjakan infeksi Covid-19 yang disebabkan varian Omicron.
Aksi tersebut membuat kondisi negara-negara miskin semakin terpuruk karena personel tenaga kesehatan berkurang sebagaimana dilansir Reuters, Minggu (23/1/2022).
# Baca Juga :Didominasi Pasien Pelaku Perjalanan Asal Arab Saudi, Kasus Omicron di Indonesia Capai 822
# Baca Juga :Naikkan Imunitas saat Omicron Merebak, Minum Campuran Lemon, Jahe dan Kayu Manis, Baik untuk Turunkan Berat Badan
# Baca Juga :Konfirmasi Kasus Pertama Omicron, Jepang Perpanjang Larangan Masuk bagi WNA hingga Februari
# Baca Juga :WHO Tegaskan Omicron Berbahaya Bagi yang Belum Vaksinasi, 90 Negara Belum Capai 40 Persen Vaksin Pertama
Dewan Perawat Internasional mengatakan, negara-negara kaya tengah kekurangan tenaga kesehatan di tengah melonjaknya kasus Covid-19 akibat varian Omicron yang sangat menular.
CEO Dewan Perawat Internasional Howard Catton menuturkan, para perawat di negara-negara kaya berhadapan dengan kelelahan dan juga infeksi sehingga membuat jumlah mereka yang bekerja menjadi berkurang.
Untuk menutup kekurangan tenaga kesehatan, negara-negara Barat meresponsnya dengan mempekerjakan personel militer, sukarelawan, dan bahkan pensiunan.
Namun, beberapa negara juga meningkatkan rekrutmen tenaga kesehatan dari negara miskin. Hal ini menurut Catton, semakin memperburuk kesenjangan fasilitas kesehatan internasional.
“Kami benar-benar melihat peningkatan rekrutmen internasional ke tempat-tempat seperti Inggris, Jerman, Kanada, dan Amerika Serikat (AS),” kata Catton dalam wawancara dengan Reuters.
Catton mengaku khawatir dengan perkembangan tersebut.
“Ini sedikit mirip dengan kasus APD (alat pelindung diri) dan vaksin, ketika negara-negara kaya memanfaatkan kekuatan ekonomi mereka untuk membeli dan menimbun,” tutur Catton.
“Jika mereka melakukan hal yang sama terhadap perawat, itu akan membuat ketidakadilan semakin buruk,”sambunf Catton.
Bahkan sebelum pandemi, dunia sudah kekurangan 6 juta perawat. Hampir 90 persen dari kekurangan itu berasal dari negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah.







