Mabes Polri Ingin Petakan Masjid, Ormas Islam: Tempat Ibadah Agama Lain Jadi Tempat Penyebaran Paham Radikal

JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Mabes Polri berencana lakukan pemetaan terhadap masjid-masjid untuk mencegah penyebaran paham terorisme.

Pernyataan itu disampaikan Direktur Keamanan Negara Badan Intelijen Keamanan Polri, Brigjen Pol Umar Effendi saat Halaqah Kebangsaan Optimalisasi Islam Wasathiyah dalam Mencegah Ekstremisme dan Terorisme yang digelar MUI disiarkan di kanal YouTube MUI, Rabu (26/1/2022).

“Kemarin kita juga sepakat dalam diskusi mapping masjid, Pak. Mohon maaf,” ujar Umar.

# Baca Juga :LINK Live Streaming Timnas Indonesia vs Timor Leste, 4 Bintang Luar Negeri Absen, Garuda Kehilangan Separuh Kekuatan

# Baca Juga :Berhadiah Ratusan Juta, Bank Kalsel Gelar Sayembara Desain Gedung 2 Kantor Pusat 15 Lantai

# Baca Juga :Migrant Care Sebut Kerangkeng Bupati Langkat untuk Rehabilitasi Narkoba Diduga Hanya Kedok Belaka

# Baca Juga :WASPADA Cuaca Ekstrem 27 Januari 2022, BMKG: Sebanyak 25 Wilayah Berpotensi Hujan Lebat Disertai Petir

Namun di dalam tayangan Youtube itu, Umar tak merinci kategori dan lokasi masjid yang masuk dalam pemetaan Polri. Dia hanya mengatakan ada masjid yang cenderung ‘keras’.

“Masjid warnanya macam-macam ada yang hijau, ada yang keras, ada yang semi keras dan sebagainya. Ini jadi perhatian kita semua,” kata dia.

Rencana Umar itu untuk melengkapi pernyataannya bahwa penyebaran paham terorisme di Indonesia saat ini dilakukan melalui berbagai cara. Salah satu yang paling marak terjadi yakni lewat media sosial.

Ia menilai media sosial punya kerawanan tinggi ketimbang media konservatif lainnya. Pasalnya, siapa saja bisa menuliskan pandangannya di media sosial, termasuk dari kelompok terorisme hingga mendapat simpati.

“Bisa lewat chat medsos, hoaks blasting penyebaran kebencian, dan angkat isu kegagalan program pemerintah. Karena siapa saja dapat jadi penulis untuk publish apa yang diinginkan,” kata Umar.

Selain itu, lanjut dia, cara-cara lama seperti acara bedah buku, diskusi dan kajian juga masih kerap dipakai. Lingkungan tempat tinggal turut menjadi faktor paham terorisme diterima sebagian kalangan.