Khoja benar. Belakangan diketahui bahwa polisi yang ditugaskan menemukan berlian biru Arab Saudi dan perhiasan lainnya yang hilang malah menggelapkan sebagian, memeras pedagang permata, dan membunuh istri dan putranya.
Kepala polisi yang bertanggung jawab atas penyelidikan awal, Chalor Kerdthes, akhirnya menjalani hukuman 20 tahun penjara.
Kutukan berlian biru Arab Saudi
Kriangkrai, akhirnya kembali memberikan wawancara terperinci pertamanya kepada BBC Thailand, 28 tahun sejak dibebaskan dari penjara, 30 tahun sejak pencurian nekat berakhir dengan kematian setidaknya tiga orang, dan mungkin lebih banyak lagi.
Dia tampak gugup, dan berulang kali bertanya apakah reporter BBC adalah seorang perwira polisi. Dia meminta wawancara di luar rumah kayunya, dan mengarahkan media ke tengah sawah yang kini dia garap.
Bahkan setelah sekian lama, dia mengaku masih takut dia juga bisa dibunuh atas apa yang dia lakukan. Perasaan itu tetap bersamanya sejak dia ditangkap.
“Ketika polisi menemukan saya. Saya memilih untuk tidak melawan. Saya menyerah. Saya juga mengembalikan perhiasan dan membantu mendapatkan kembali barang-barang yang saya jual. Tapi jika bukan karena keterlibatan orang-orang berkuasa di Thailand, cerita ini tidak akan terlalu besar.”
Kriangkrai dihukum dua tahun tujuh bulan setelah mengaku bersalah. Dia pun menegaskan tidak tahu kejahatannya akan menjadi sepenting itu.
Dia mengubah nama keluarganya, agar putranya tidak dipermalukan. Tetapi dia mengaku hidupnya setelah penjara penuh dengan “kekecewaan dan peristiwa yang tidak menguntungkan”. Maka, pada Maret 2016, ia memutuskan ditahbiskan sebagai biksu Buddha.
“Saya ingin ditahbiskan seumur hidup untuk menghapus kutukan berlian Saudi,” katanya, “dan untuk mendedikasikan jasa saya kepada orang-orang yang terjerat oleh karma saya, dan mereka yang meninggal dalam semua peristiwa masa lalu ini. Saya ingin pengampunan semua orang untuk apa yang telah kulakukan.”
Tapi Kriangkrai tinggal di vihara hanya selama tiga tahun, karena harus menghidupi keluarganya yang miskin. Pria yang kini berusia 61 tahun itu melakukan pekerjaan apa pun yang dia bisa temukan untuk bertahan hidup, dari bertani, merawat sawah, memelihara ternak.
“Sekarang saya hidup sederhana sebagai orang desa,” kata Kriangkrai di dalam rumah kayunya. “Saya tidak punya banyak uang. Itu hanya cukup untuk bertahan hidup dan memberi makan keluarga saya. Saya rasa itu bagi saya adalah kebahagiaan sejati.”
editor : NMD
sumber : kompas.com










