BARABAI, kalimantanlive.com – Meski harus melepas pekerjaannya di salah satu perusahaan, Adi Candera tak merasa menyesal, ia justru merasa bangga karena kini menjadi pelaku UMKM dan memiliki usaha sendiri meskipun usaha rumahan atau kecil-kecilan.
Setelah meninggalkan pekerjannya, pria yang akrab disapa Adi ini merintis usaha mandiri.
Usaha berupa kerupuk rengginang ball by Rofif Alwi RA itu bahkan berhasil menembus pasar dan ritel di Banjarmasin.
Sebelum merintis usahanya, pada 2019, Adi mengaku menjadi reseller kerupuk rengginang produksi orang lain sebagai pekerjaan sampingan.
Namun, semasa covid 19, dia dan istrinya Rusnawati mulai berpikir untuk merintis usaha sendiri membuat rengginang siap santap.
BACA JUGA: Disdik Banjarmasin Kembali Terapkan PTM Terbatas Mulai Senin Besok, Banyak Siswa Terpapar Covid-19
“Awal produksi tidak begitu berhasil karena menggunakan ketan lokal. Sekarang sudah pakai ketan jenis yang cocok untuk rengginang,” katanya.
Ada banyak varian rasa rengginang merek Rofif Alwi, yaitu rasa bawang balado, jagung bakar dan jagung manis.
Adapula rasa ketumbar di jeruk purut dan pedas.
Bahan bumbu yang digunakan tentunya cabai, jeruk purut dan ketumbar.
Tiap kemasan siap saji berisi 40 kerupuk rengginang dengan bentuk bulat kecil.
Tersedia pula untuk kerupuk mentahnya dengan harga sama yaitu Rp 10 ribu per bungkus.
Setiap hari Adi memproduksi 10 liter ketan murni plus bumbu untuk kerupuk yang rasanya memang gurih dan renyah tersebut.
Awal merintis usaha, proses produksi dan pemasaran dilakukan sendiri.
Dipasarkan ke toko-toko, ternyata kata Adi mendapat sambutan positif dari pembeli.
Dia juga memasarkan secara online melalui Facebook @Rengginang RA Rofif Alwi dan kini produk rumahannya itu menyerap enam tenaga kerja.
BACA JUGA: Kreativitas Penjual Kue Cincin di Desa Maringgit HST, Tawarkan Varian Rasa Durian
Adi yang menangani usaha mandiri bersama istrinya yang berstatus pegawai honor itu pun telah menembus ritel modern seperti Lotte Mart Banjarmasin.
“Alhamdulillah produk kami sudah berlabel halal dan kami sudah punya reseller di Kalsel Kalteng dan Kaltim,” bebernya.
Menurutnya, kendala yang dihadapi saat ini adalah masih mahalnya harga minyak goreng serta fluktuatifnya harga bawang sebagai bumbu pelengkap.
Di sisi lain upaya peningkatan kualitas produksi harus terus ditingkatkan.
“Tapi saya tak menyesal meninggalkan pekerjaan sebagai karyawan di perusahaan, karena kami sekeluarga lebih menikmati menjalani usaha mandiri seperti sekarang. Saya bersama istri juga bisa membantu orang lain bekerja di tempat usaha kami. Enaknya usaha mandiri saya jadi “bos”nya,”katanya.
Editor: M Khaitami
Sumber: banjarmasinpost.co.id









