Lalu, mengapa terjadi kericuhan?
Kericuhan diawali dengan pengepungan Desa Wadas oleh ratusan aparat gabungan TNI dan Polri bersenjata lengkap.
Mereka berdalih datang untuk membantu BPN mengukur lahan yang akan dijadikan tambang andesit.
Namun, bentrokan dengan warga yang menolak penambangan di Desa Wadas tak terhindarkan.
Sebanyak 64 warga ditangkap oleh aparat dan digelandang ke Polres Purworejo, sebelum akhirnya dibebaskan pada Rabu.
Mengapa warga menolak penambangan andesit?
Sebagian warga Desa Wadas menolak penambangan batu andesit yang akan digunakan untuk pembangunan Bendungan Bener.
Untuk diketahui, batu andesit yang dijadikan material pembangunan Bendungan Bener, diambil dari bukit Desa Wadas. Penambangan batu andesit ini lah yang ditolak oleh warga.
Mereka menganggap penambangan tidak sekadar mematikan mata pencaharian sebagian besar warga, tetapi juga merusak lingkungan yang bisa mengancam keselamatan nyawa warga Wadas dan sekitarnya,
Siswanto (30), warga Desa Wadas, mengatakan, perbukitan Wadas termasuk daerah penyangga Bedah Menoreh.
Hal itu juga telah disebutkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Purworejo.
“Perbukitan Wadas itu penyangga Bedang Menoreh yang rawan bencana terutama tanah longsor. Jadi tidak bisa jadi penambangan. Akan tetapi, entah bagaimana RTRW berubah kalau kawasan Wadas boleh ditambang,” ujar Siswanto, melalui sambungan telepon, Rabu.







