JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Pengusiran pejabat eksekutif oleh yang terhormat Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terjadi lagi pada Senin (14/2/2022) kermarin.
Korban yang kesekian kalinya adalah Direktur Utama PT Krakatau Steel Silmy Karim.
Dirut Silmy Karim dan Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian Taufiek Bawazier diminta keluar dari rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR.
Kasalahan petinggi di PT PT Krakatau Steel karena berani menjawab dengar pendapat.
# Baca Juga :PREDIKSI PSG vs Real Madrid Liga Champions 2022, Messi Jadi Pusat Perhatian dan Ini yang Ditakutkan Ancelotti
# Baca Juga :Warga Tabalong Jalan Kaki Keliling Indonesia, Tak Bawa Uang Serupiah Pun, Ternyata Ini Tujuan Mulai Fini
# Baca Juga :Banjarmasin dan 6 Daerah di Kalsel Naik ke Level 3, Ini Aturan Lengkap PPKM Level 3 Luar Jawa-Bali
Sebelumnnya, Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial Harry Hikmat diusir dari rapat Komisi VIII DPR dan Komnas Perempuan diusir dari rapat Komisi III DPR.
Berikut ini rangkuman peristiwa pengusiran oleh DPR yang terjadi selama 2022.
1. Dirut Krakatau Steel diusir gara-gara menjawab anggota dewan

Pengusiran terhadap Silmy bermula ketika Wakil Ketua Komisi VII DPR Bambang Haryadi selaku pemimpin rapat mengomentari paparan Silmy soal proyek blast furnace atau pembangunan pabrik baja sistem tanur tinggi.
Bambang mengaku bingung lantaran pabrik untuk blast furnace dihentikan, tetapi di sisi lain ada keinginan untuk memperkuat produksi dalam negeri.
Bambang sempat melontarkan kalimat ‘maling teriak maling’, tetapi pernyataan Bambang itu tiba-tiba dipotong oleh Silmy dengan nada seolah tidak terima dengan pernyataan Bambang.
“Yang saya unik ini, bagaimana pabrik untuk blast furnace ini dihentikan, tapi satu sisi ingin memperkuat produksi dalam negeri. Ini jangan maling teriak maling, gitu lho. Jangan kita ikut bermain pura-puran enggak ikut bermain,” kata Bambang.
“Maksudnya maling bagaimana, Pak?” kata Silmy menyela pernyataan Bambang.
Bambang pun menjelaskan apa yang ia maksud, bahwa di satu sisi ada semangat untuk memperkuat industri, tetapi di satu sisi industri tersebut malah dihentikan.







