KALIMANTANLIVE.COM – Reaksi keras dari komunitas internasional kepada Presiden Vladimir Putin bermunculan akibat invasi Rusia ke Ukraina pada Kamis (24/2/2022) pagi WIB.
Salah satu instrumen yang menjadi senjata negara-negara dunia untuk menghukum negeri Beruang Merah itu dengan sanksi ekonomi.
Salah satunya datang dari Pemerintah Inggris yang bergerak cepat dengan membekukan aset lima bank dan tiga miliuner asal Rusia setelah pasukan Rusia menyeberang ke perbatasan timur Rusia pada awal pekan ini.
# Baca Juga :PERANG Rusia-Ukraina Pecah, Ledakan Keras Terdengar di Ibu Kota Ukraina usai Putin Perintahkan Invasi
# Baca Juga :Menteri Inggris : Putin Kerahkan Tank dan Pasukan, Invasi Rusia di Ukraina Sudah Dimulai
# Baca Juga :NATO Sebut Uji Coba Rudal Balistik Hipersonik Indikasi Rusia akan Serang Penuh Ukraina
# Baca Juga :Rusia-Ukraina Diambang Perang, Sirine Bahaya Berbunyi, Biden Yakin Putin Sudah Buat Keputusan
Namun, eskalasi besar kemudian terjadi dengan Rusia menyerang posisi-posisi militer strategis di seantero Ukraina beberapa hari kemudian termasuk ke beberapa instalasi dekat ibu kota Kyiv.
Pemerintah Inggris dilaporkan siap menjatuhkan sanksi ekonomi lebih berat lagi kepada Putin dan kroni-kroninya.
Perhatian tentu tertuju kepada pemilik Chelsea yang juga merupakan salah satu oligarki kelas berat Rusia, Roman Abramovich.
Abramovich disebut punya hubungan “bak ayah dan anak” dengan Vladimir Putin. Selain Chelsea, ia juga membangun kerajaan properti di Inggris senilai 200 juta pound.
Kini, muncul seruan agar Pemerintah Inggris mengambil langkah tegas dengan mencopot Abramovich dari kepemilikan Chelsea dan membekukan aset-asetnya.
Anggota parlemen Inggris, Chris Bryant, menjadi salah satu pihak yang meminta Abramovich dicabut dari kepemilikan Chelsea.
Hal ini sebagai imbas dari munculnya bocoran dokumen Home Office (Kementerian Dalam Negeri Inggris) yang mengaitkan Abramovich dengan rezim Putin.
“Abramovich tetap menjadi perhatian pemerintah karena ikatan-ikatannya dengan negara Rusia dan asosiasi publiknya dengan aktivias dan praktik korup mereka,” tuturnya mengacu ke dokuman dari 2019 tersebut.
“Salah satu contoh dari ini adalah Abramovich pernah mengaku di pengadilan bahwa ia membayar untuk punya pengaruh politis.”







