Bencana Chernobyl
Bencana Chernobyl di tahun 1986 merupakan kecelakaan pada reaktor Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Chernobyl.
PLTN ini terletak di Pripyat, Ukraina, yang dulu jadi bagian Uni Soviet.
Laman Kementerian Luar Negeri Ukraina menyebut, total isotop radioaktif yang dilepaskan dari kecelakaan tersebut 30 kali lebih tinggi dibandingkan ledakan bom atom di Hiroshima, Jepang, pada 1945.
Detik-detik Bencana Chernobyl
Dilansir Ensyclopedia Britannica, detik-detik terjadinya ledakan bermula pada 26 April 1986. Ketika itu, teknisi di reaktor nomor empat mencoba bereksperimen.
Mereka mencoba mematikan sistem pengaturan daya reaktor dan sistem keselamatan daruratnya.
Setelah itu, para teknisi mereka menarik sebagian besar batang kendali dari inti reaktor sambil membiarkan reaktor terus berjalan dengan daya 7 persen.
Pada pukul 1.23 pagi dini hari pada 26 April reaksi berantai di inti reaktor menjadi tidak terkendali. Setelah itu, terjadi lonjakan energi secara tiba-tiba dan tak diduga.
Beberapa ledakan memicu bola api besar dan meledakkan baja berat dan tutup beton reaktor.
Ketika para teknisi mencoba mematikannya secara darurat, terjadi lonjakan daya sangat tinggi yang menyebabkan tangki reaktor pecah diikuti serangkaian ledakan.
Kejadian ini melepaskan moderator neutron grafit di reaktor ke udara lalu terjadi kebakaran selama sepekan penuh.
Kebakaran melepaskan debu radioaktif ke atmosfer secara meluas, hingga ke wilayah Pripyat.
Dampak Bencana Chernobyl
Debu radioaktif kemudian tersebar ke kawasan Uni Soviet bagian barat dan Eropa.
Pada 27 April 1986, 30.000 penduduk Pryp’yat mulai dievakuasi. Uni Soviet mencoba menutup-nutupi kecelakaan itu.
Namun, pada 28 April 1986 stasiun pemantau Swedia melaporkan tingginya tingkat radioaktivitas yang dibawa angin dan mendesak penjelasan.







