PELAIHARI, kalimantanlive.com – Para ibu rumah tangga di Pelaihari kian gundah gulana mendapati sulitnya pasokan minyak goreng.
Tak hanya kalangan ibu rumah tangga yang dibin bingung, para pedagang sembako pun juga merasakan hal serupa.
“Sama-sama pusingnya. Kami bingung tiap hari didatangi pembeli yang nanyain dan mau beli migor, padahal migornya kosong,” ucap Nur Azikin, pedagang sembako di kawasan Matah, Kelurahan Karangtaruna, Pelaihari, Rabu (2/3/2022).
Ia mengaku sejak sekitar sepuluh hari lalu tak berjualan migor.
“Sudah nyari kesana kemari di toko langganan di Pasar Pelaihari, tapi gak dapat karena juga belum dapat pasokan dari distributor,” sebutnya.
BACA JUGA: Potong Cincin Ditindikkan di Alat Kelamin, Petugas Damkar Blitar Gugup, Grogi dan Rasakan Hal Ini
Senada diutarakan Hj Hasbanah, pemilik Toko Radini di pasar tradisional Pelaihari (Pasar Manuntung).
“Sudah semingguan ini saya tak jualan migor karena memang belum dapat lagi,” ucapnya.
Ia menuturkan sejak kebijakan satu harga migor Rp 14 ribu yang diterapkan pemerintah sejak sekitar sebulan lalu, pasokan migor menjadi terbatas.
“Sekarang ini kalau dapat pasokan paling tiga bal. Kalau migornya kemasan dua liter, isinya cuma enam pieces. Kalau dulu seberapa pun yang kita mau, dikasih karena banyak stoknya,” sebutnya.
Karena itu Hasbanah yang mengaku telah berjualan di Pasar Manutung sejak 21 tahun silam, dirinya memilih menunggu pasokan saja.
Ia tak ikut mencari migor ke distributor di Banjarmasin.
Sementara jika bepergian ke Banjarmasin memerlukan biaya dan belum tentu dapat migor dalam jumlah memadai.
“Jadi, saya memilih jualan apa adanya saja, barang yang ada saja, sembako lainnya saja,” tandas Hasbanah.
Editor: M Khaitami
Sumber: banjarmasinpost.co.id







