KALIMANTANLIVE.COM – Marah karena membumihanguskan Ukraina, seorang pengusaha Rusia menawarkan hadiah 1 juta USD atau sekitar Rp14,4 miliar untuk kepala Presiden Rusia Vladimir Putin.
Bahkan pengusaha ini mendesak perwira militer Rusia agar membawa Presiden Putin ke pengadilan internasional.
Pengusaha Rusia bernama Alex Konanykhin ini sudah membuat janji dalam sebuah unggahan di situs media sosial Linkedln dan menyebutnya sebagai “tugas moral” untuk bertindak membantu Ukraina, menyusul serangan yang tak beralasan.
# Baca Juga :8 Negara yang Senang Rusia Invasi Ukraina, dari Myanmar hingga China, Iran Sebut NATO Sebagai Provokator
# Baca Juga :BEGINI Dahsyatnya Kekuatan Rudal Nuklir Minuteman III AS yang Bikin Rusia Siaga
# Baca Juga :HASIL Drawing dan Jadwal German Open 2022, Indonesia Tanpa Marcus/Kevin & Ahsan/Hendra, Rusia Dilarang!
# Baca Juga :TERUNGKAP, Ini Sanksi Ekonomi Terberat yang Dihadapi Rusia karena Invasi Ukraina, Apa Itu SWIFT?
“Saya berjanji untuk membayar 1.000.000 USD kepada petugas yang sesuai tugas konstitusional mereka, menangkap Putin sebagai penjahat perang di bawah hukum Rusia dan internasional,” tulisnya, sebagaimana diberitakan Independent.
“Putin bukan Presiden Rusia karena ia berkuasa dari hasil operasi khusus meledakkan gedung-gedung apartemen di Rusia, kemudian melanggar konstitusi dengan menghilangkan pemilihan umum yang bebas, dan membunuh lawan-lawannya.”
Di unggahannya, Konanykhin juga menyertakan foto Putin dan menuliskan judul, “Dicari: Mati atau hidup. Vladimir Putin atas pembunuhan massal.”
Ia juga menambahkan, “Sebagai seorang etnis Rusia dan warga negara Rusia, saya melihatnya sebagai kewajiban moral saya untuk memfasilitasi denazifikasi Rusia.”
“Saya akan melanjutkan bantuan ke Ukraina dalam upaya heroik untuk menahan serangan gencar Orda Putin.”
Kata “Orda” adalah bahasa Rusia yang berarti “gerombolan”.
Insiden peledakan gedung yang dibahas Konanykhin, terkait teori konspirasi bahwa dinas intelijen Rusia, FSB, yang dipimpin oleh Putin pada 1998 hingga 1999, bertanggung jawab atas ledakan di empat blok apartemen pada 1999 yang menewaskan sekitar 300 orang.







