KALIMANTANLIVE.COM – Pada Senin (28/2/2022), Kementerian Pertahanan Rusia mengonfirmasi status siaga tempur dari unit darat yang dilengkapi dengan rudal balistik antarbenua serta kapal dari Armada Utara dan Pasifik.
Mungkinkah hal itu mengisyaratkan perang antara Rusia dan Ukraina menyebabkan ‘kiamat’ nuklir yang berdampak pada miliaran korban jiwa?
Bukan hanya itu saja, Presiden Rusia Vladimir Putin juga sudah menempatkan pasukan pencegah nuklir negaranya dalam status siaga ‘khusus’ pada Minggu (27/2/2022).
# Baca Juga :Akses Media Milik Negara Dibatasi, Facebook Diblokir di Rusia
# Baca Juga :Negaranya Diserang Rusia, Restoran Ukraina di Hong Kong Kebanjiran Tawaran Bantuan
# Baca Juga :Merebut Kota-kota di Ukraina, AS Sebut Rusia akan Kerahkan 1.000 Tentara Bayaran
# Baca Juga :Protes Invasi ke Ukraina, 7.000 Ilmuwan Rusia Surati Presiden Vladimir Putin
Perang yang kian memanas antara Rusia dan Ukraina menimbulkan kekhawatiran para pemimpin dunia. Salah satu kekhawatiran yang muncul adalah konflik meningkat menjadi perang nuklir jika negara barat membantu Ukraina secara militer.
Para ahli mengatakan bahkan perang nuklir dalam lingkup ‘terbatas’ mampu menyebabkan ‘kiamat’ nuklir yang dapat membunuh miliaran orang.
Selain itu, ‘kiamat’ nuklir yang lebih dikenal dengan nama ‘nuclear winter’ juga dapat menyebabkan perubahan iklim dan penyakit yang akan menyusul, sehingga dapat membunuh lebih banyak korban.
Dilansir dari Weather, Nuclear Winter mengacu pada fenomena yang menggambarkan dampak iklim jangka pendek dan jangka panjang dari perang atom.
Dalam teori tersebut digambarkan lebih banyak orang mati karena dampak jangka panjang daripada korban langsung di negara-negara yang berperang.
Sebuah studi pada 2014 menunjukkan perang nuklir dalam lingkup terbatas akan mengeluarkan asap yang dapat menghalangi sinar Matahari. Hal tersebut akan membuat Bumi mengalami suhu terdingin sejak zaman es terakhir.
Kemudian saat asap bertahan selama bertahun-tahun di stratosfer, suhu permukaan tidak akan berubah selama lebih dari 25 tahun. Hal ini terjadi karena inersia termal dari pendinginan air laut dan pantulan sinar Matahari kembali ke angkasa oleh es laut yang meluas.







