Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan, bank sentral berencana mulai menaikkan suku bunga di akhir bulan ini.
Suku bunga yang lebih tinggi akan membantu menarik modal dari luar negeri, terutama jika pembuat kebijakan di Eropa terpaksa menunda kenaikan suku bunga menjadi lebih lama.
Satu hal lagi, saat krisis, tidak ada investor mata uang dan pembuat kebijakan yang lebih suka bertahan daripada menjual. Tercatat dollar AS menyumbang sekitar 60 persen dari cadangan global pada tahun 2021.
“Pasar dan bank sentral ingin menahan dolar karena itu mata uang yang sangat likuid. Ini sangat bisa diperdagangkan, didukung oleh ekonomi yang sangat kuat dan solid,” kata Pesole.
Tingginya dollar AS tentu dapat menggerus keuntungan bagi perusahaan yang mendulang uang di luar negeri. Kekhawatiran yang lebih besarnya yakni kenaikan dolar mempengaruhi negara berkembang, yang sering kali harus membayar utang dalam bentuk dollar AS.
Sudah ada beberapa kecemasan apakah ledakan ekonomi Rusia akan menyebabkan investor meninggalkan pasar yang lebih berisiko seperti Brazil, Turki, atau Meksiko. Kenaikan dollar bisa menambah tekanan itu.
Pasalnya, ada beberapa obrolan perang Rusia di Ukraina dapat mengguncang dominasi dollar, memperkuat tekad Moskow bersama dengan Beijing mengembangkan mekanisme pembiayaan alternatif yang akan membuat sanksi Barat menjadi kurang efektif dari waktu ke waktu.
“Tapi tidak ada indikasi yang benar-benar bahwa dominasi dolar menyusut. (Kerja sama Rusia dengan China) adalah alur cerita yang hanya bisa (terjadi) untuk jangka panjang,” beber dia.
editor : NMD
sumber : kompas.com







