DOLLAR AS Menguat ke Level Tertinggi sejak 2020 Dampak dari Invasi Rusia ke Ukraina

JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Imbas invasi Rusia ke Ukraina, mata uang dollar AS tercatat mengalami penguatan yang signifikan.

Akibat ketidakpastian akibat invasi Rusia, dollar AS ditimbun investor mengingat instrumen ini menjadi mata uang paling aman untuk dipegang.

Mengacu data Bloomberg, mata uang rupiah tercatat melemah 0,16 persen pagi ini.

# Baca Juga :HARI Ini Harga Emas Antam Naik Rp 8.000 Menjadi Rp 1.013.000 Per Gram, Segini Harga Buyback

# Baca Juga :Harga Emas Antam Naik Rp 3.000 Jadi Rp 990.000 Per Gram, Emas Dunia Juga Naik ke 1.933 Dollar AS

# Baca Juga :Harga Emas Antam Turun Rp 1.000 Jadi Rp 977.000 per Gram Hari Ini, Selasa 1 Maret 2022

# Baca Juga :HARGA Emas Antam Menyusut Rp 6.000 Hari Ini, Dijual Cuma Rp 969.000 per Gram

Nilainya naik menjadi Rp 14.410 per dollar AS atau melemah 23,5 poin dari penutupan Rp 14.386 per dollar AS.

Dikutip dari CNN, Senin (7/3/2022), dollar AS sepanjang pekan lalu naik ke level tertinggi sejak musim semi 2020 karena kekhawatiran investor terhadap ekonomi global dan pasar keuangan akibat konflik di kedua negara itu.

Para investor memutuskan untuk melepas mata uang euro dan menggantinya dengan dollar AS. Alasannya, negara-negara eropa dekat sekali dengan konflik Rusia-Ukraina.

“Pasar Eropa sama sekali tidak menarik saat ini hanya karena eksposur geografis mereka ke Ukraina dan Rusia,” kata ahli strategi ING Francesco Pesole dikutip dari CNN Business.

Selain di mata uang, hal serupa juga terjadi di pasar saham. Saham-saham AS terlihat lebih diminati dibanding saham eropa sejak invasi Rusia. Alasannya pun sama, AS lebih terisolasi dari perang dibanding negara blok eropa.

Tak ayal, harga gas alam di eropa mencapai rekor tertinggi pekan lalu karena kekhawatiran adanya hambatan ekspor energi dari Rusia.

Di sisi lain, tingginya mata uang dolar AS mendapat dorongan kuat dari bank sentralnya.