BARABAI, kalimantanlive.com – Sejak 2019, kondisi jalan Rantaubujur-Mantaas di Kecamatan Labuanamas Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, rusak parah.
Selain jalan berlubang, ditambah lagi terendam banjir sejak Desember 2021 lalu, membuat kondisi makin memprihatinkan.
Tah hanya jalan, tapi juga jembatan sudah banyak yang lapuk.
Sekdes Mantaas, Norifansyah, Selasa (8/3/2022) mengatakan, sampai sekarang bberapa titik jalan yang lubangnya besar masih terendam air.
Menurut Sekdes, ketinggian airnya masih selutut.
Warga di desa itupun terisolasi karena jika pakai sepeda motor matik biasa bisa mogok.
“Kalau jenis motor seperti honda vario atau beat yang bodinya tinggi, bisa saja menerabas. Termasuk mobil pikap masih bisa. Tapi jika jenis city car, tidak kami sarankan karena bisa mogok,” kata Norifansyah.
BACA JUGA: Ban Mobil Mengenai Gorong-gorong, Truk Bermuatan Batu Bara Terbalik di HST
Kerusakan parah jalan tak hanya di Mantaas, tapi juga di Desa Rantaubujur, akses sebelum menuju Mantaas.
Akibat kondisi tersebut, warga pun terisolasi.
Jika bepergian ke luar desa untuk menjual ikan, warga terpaksa menggunakan jukung atau perahu ces.
Untuk menumpang sarana transportasi kendaraan air tersebut, warga harus membayar tarif Rp 50 ribu pulang pergi jika mengangkut hasil ikan ke Sungai Buluh.
Desa Mantaas, yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Barabai, ibu kota Kabupaten HST salah satu desa penghasil ikan terbesar di HST.
Mayoritas warga setempat hidup dari hasil menangkap ikan di lahan rawa-rawa yang terbentang luas.
Berdasarkan data 2019 jumlah penduduknya 2.313 jiwa.
Sepanjang jalan dari Desa Rantau Bujur ke Mantas lebih dari 10 jembatan bakal dilewati dan kebanyakan mengalami kerusakan.
Jika musim hujan, kedua desa tersebut juga menjadi langganan banjir, dimana baik rumah penduduk maupun ruas jalannya terendam sampai tiga bulan lebih.
Mariani, warga Mantaas mengeluhkan kondisi jalan dan jembatan yang rusak parah tersebut.
“Kami sangat berharap kepada pemerintah HST agar segera melakukan perbaikan,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut mempengaruhi perekonomian warga.
Akibat terisolasi sulit bagi warga membawa hasil ikan maupun hasil ternak ke ibu kota kabupaten.
Editor: M Khaitami
Sumber: banjarmasinpost.co.id










