Banyak Warga Indonesia Malah Dukung Vladimir Putin Invasi Ukraina, Ada Apa Ya?

Variabel berikutnya adalah sentimen masyarakat Indonesia yang lebih menyukai sosok pemimpin kuat dan tegas. Sosok itulah yang dinilai ada pada Presiden Rusia Vladimir Putin. Sosok Putin sering dinilai sebagai tokoh yang kuat, tegas, gagah, dan nasionalis.

“Soal sosok Putin, kita [masyarakat Indonesia] itu senang dengan yang gagah, yang tegas. Jadi maunya pemimpin nasionalis,” ujar Radit.

Masyarakat, menurut Radit, cenderung menyamakan sosok Putin dengan Presiden Pertama RI Soekarno yang sama-sama tegas, serta tokoh militer Prabowo Subianto.

“Dilihat dari popularitas Prabowo Subianto pada dua pemilu lalu, yang menampilkan citra tegas, menunggang kuda. Citra-citra semacam itu yang disukai masyarakat Indonesia,” ucapnya.

Hal itu pula, kata Radit, menjadikan Masyarakat Indonesia menganggap sosok Putin lebih gagah dan tegas ketimbang Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, yang merupakan mantan komedian.

“Yang muncul Putin adalah mantan intelijen sementara presiden Ukraina komedian. Seakan-akan kalau mantan intelijen lebih bisa jadi pemerintah, sementara komedian jadi presiden kan dianggap negaranya enggak benar,” tuturnya.

Sentimen Agama

Beberapa tahun terakhir kanal-kanal media dan publikasi Rusia, kerap menampilkan citra bahwa Rusia begitu dekat dan bersahabat dengan Islam.

Salah satunya adalah dengan dipublikasikannya tokoh Muslim, Ramzan Kadyrov, yang diangkat Putin menjadi Presiden Chechnya, negara bagian di Rusia.

“Pemimpin Chechnya Ramzan Kadyrov misalnya. Ia dipotret sebagai tokoh yang sangat dekat dengan Islam, padahal otoriter, sebenarnya,” kata dia.

Nama Ramzan begitu masyhur di kalangan Muslim, seiring sorotan media-media, termasuk media Indonesia. Hal itu kemudian juga berdampak positif bagi Rusia, yang dicitrakan sebagai negara yang bersahabat dengan Islam.

Radit menyebut, di sebuah kanal youtube Indonesia, Rusia juga dipercaya sebagai bangsa Rum. Yang akan beraliansi dengan Umat Muslim di akhir zaman. Belum lagi sebuah isu yang memperlihatkan kelompok Azov neo-Nazi Ukraina melumuri pelurunya dengan lemak babi dan akan ditembakkan ke pasukan Chechen Rusia.

“Rusia juga dipotret sebagai bangsa Rum, nanti akan beraliansi dengan Umat Muslim. Ini narasi yang beberapa tahun lalu sudah ada, dan tidak benar sebenarnya. Pandangan [Rusia adalah Bangsa Rum] itu cocoklogi [mengada-ada] saja,” kata Radit.