Banyak Warga Indonesia Malah Dukung Vladimir Putin Invasi Ukraina, Ada Apa Ya?

KALIMANTANLIVE.COM – Invasi Rusia ke Ukraina mengundang banyak kecaman dunia, termasuk Indonesia yang mendukung kecaman terhadap agresi Rusia melalui Resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Selain Indonesia, ada 141 negara yang mendukung resolusi PBB tersebut.

Resolusi itu menjadi salah satu dukungan terbanyak yang pernah diajukan Majelis Umum PBB.

# Baca Juga :AS Kirim Rudal Patriot ke Polandia, Ukraina Buka Pintu Warga Asing Perang Lawan Rusia

# Baca Juga :Dukung Ukraina, Pepsi, Coca-Cola, McDonald’s dan Starbucks Setop Operasi di Rusia

# Baca Juga :Imbas Invasi ke Ukraina, Netflix Tak Bisa Lagi Dinikmati di Rusia

# Baca Juga :Tangguhkan Pengiriman Produk ke Rusia, Samsung Beralasan Ada Gangguan Logistik

Namun sikap pemerintah ternyata tak senada dengan banyak warganet Indonesia.

Pengamat melihat masyarakat Indonesia terpecah menanggapi invasi Rusia ke Ukraina.

Peneliti Studi Rusia dan Eropa Timur di Hubungan Internasional (HI) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Radityo Dharmaputra mengatakan ruang-ruang diskusi dan percakapan seperti media sosial di Indonesia lebih banyak diisi oleh para simpatisan Rusia.

Anti-Amerika Serikat

Radityo mengatakan ada berbagai variabel mengapa publik Indonesia justru cenderung mendukung invasi Rusia ke Ukraina. Yang pertama adalah keberpihakan politik masyarakat Indonesia yang anti-Amerika Serikat dan anti-Barat.

Sentimen itu timbul setelah agresi Amerika di negara-negara Timur Tengah, saat masa War on Terror atau ‘perang melawan terorisme’ yang dimulai sejak September 2001 silam.

“Kecenderungan masyarakat kita [masyarakat Indonesia] setelah masa perang melawan terorisme, perang Irak, masyarakat lebih anti-Amerika dan anti-Barat,” kata Radit saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Kamis (10/3).

Hal itu, kata Radit, membuat masyarakat Indonesia lebih berpihak kepada Rusia. Masyarakat menganggap siapapun yang berseberangan dengan Amerika maka dia lah yang harus dibela.

“Kalau begitu narasi jadi mudah sekali dibuat, ‘oh ini anti-Barat jadi kita harus dukung Rusia’. Ini tidak hanya terjadi di Indonesia, di banyak negara China, India, di Malaysia juga berpandangan seperti itu,” kata Mahasiswa Doktoral University of Tartu, Estonia, ini.

Radit mengatakan, masyarakat Indonesia tak bisa memandang dengan jernih bahwa konflik yang terjadi hari ini adalah antara Rusia dan Ukraina. Bukan Amerika dan negara-negara anggota NATO.

“Masyarakat ketika bicara soal Rusia dan Ukraina itu bukan melihat ini perang antara Rusia dan Ukriana. Tapi melihatnya justru seakan antara Rusia dan Barat,” katanya.

News Feed