Data inflasi Februari 2022 Amerika Serikat (AS) yang melesat hingga ke level tertinggi dalam lebih dari 40 tahun terakhir, ternyata tak mendorong lonjakan harga pada emas. Investor sudah lebih dulu ambil untung setelah harga emas melonjak imbas konflik geopolitik Rusia-Ukraina.
“Angka inflasi tentu merupakan elemen bullish yang mendasari emas. Namun, geopolitik mengalahkan data ekonomi saat ini,” ujar Jim Wycoff, Analis Senior di Kitco Metals.
Selain itu, harga minyak mentah dunia yang anjlok setelah terus menguat akibat perang Rusia-Ukraina, memberikan beberapa bantuan ekonomi setelah sejumlah komoditas terus mengalami inflasi. Hal ini membuat mulai beralih ke aset berisiko sehingga pasar saham justru rebound.
Saat terjadi ketidakpastian ekonomi dan konflik geopolitik, emas sebagai aset lindung nilai memang diburu investor. Tetapi seiring dengan harga minyak mentah yang turun dan mulai beralihnya investor ke pasar saham, harga emas pun mengikuti ke level lebih rendah.
Namun pergerakan emas pada pekan ini akan dipengaruhi kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed). Pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps).
Namun dengan inflasi AS yang melesat tinggi, pasar menilai ada kemungkinan The Fed akan lebih agresif dalam menaikkan suku bunga di tahun ini. Seperti diketahui, kenaikan suku bunga akan menekan nilai emas yang tidak memberikan bunga atau imbal hasil seperti instrumen investasi lainnya.
editor : NMD
sumber : kompas.com







